Darkness [part 1]

Title : Darkness

Author : ilmacuccha

Cast : SHINee, Song Hyerim (author)

Genre : Thiller, AU, a little bit of romance

Genre : PG13-PG15

Disclaimer : plotnya punyaku !! SHINee juga~! Haha #evillaugh

Previous : Epilogue

NB : Sebenernya rada gak pede mau post ini, Cuma… kayaknya harus di post juga, soalnya ngebet banget bikin ni tulisan.. soalnya baru bikin FF genre-nya thiller..


NOT FOR SILENT READERS

Be a Good Readers Please …

Five Hours before ….

“Hyung! Kau yakin aku harus seperti ini?” Tanya seorang pria sambil memperlihatkan baju yang dipakainya. Pria itu sedang berada di sebuah ruangan pengap yang berisi dia dan ketiga temannya.

“Atau kau ingin ingin yang lebih seksi lagi?” Goda orang yang dipanggil Hyung itu sambil menyenggol pinggang pria tadi. Disusul dengan kikikan dari kawannya yang lain.

“Oh! Shit! Aku lebih baik menjadi anak sekolahan daripada harus berkostum seperti ini!” Balas pria itu.

“Sudahlah, akui saja cara penyamaranku bagus. Buktinya kau sama sekali tak terlihat seperti lelaki Sparry~,” goda pria yang melakukan penyamaran itu. 

Shit!! Stop!! Oh guys come on!!” Keluh orang yang tadi disebut Sparry itu. Mereka hanya tertawa kecil.

“Dan kau!! Key!! Jangan memanggilku dengan sebutan aneh itu!” Ancam Sparry.

Hyung! Ayolah! Sampai kapan kalian akan bercanda?” Tanya seorang pria sambil mendengus kesal melalui komunikator.

“Hihi, mian Puerile, kau sudah siap?” Balas pria yang disebut Sparry tadi.

“Dari tadi Hyung~, ayo! Cepat!” Perintah pria di seberang itu.

“Ya! Puerile! Jangan seenaknya memerintahku!” Balas Sparry itu.

“Oke, Nix sudah mempunyai koneksi agar kau bisa masuk ke gedung itu. Key sudah mempersiapkan penyamaranmu dengan sempurna, Pue-“

“Tapi kenapa harus jadi perempuan Hyung? Kenapa tidak Nix atau Puerile saja?” Keluh Sparry.

“Karena kalau kau lebih menggoda Sparry,” Balas pria tadi.

“Stop that!! Aku bukan Sparry! Tapi Spear!!” Teriak Sparry.

“Sudahlah Hyung, Sparry lebih seksi menurutku,” timpal Puerile melalui komunikator. Sparry hanya mendengus kesal.

“Oke, lalu Puerile sudah berada di ruang pengawas. Aku, Dux sudah menyiapkan cara masuk dan cara meloloskan diri dari ruangan dimana target kita akan berada. Terakhir, kau Sparry siapkan senjatamu, mengenai waktu kau bisa tanyakan pada Puerile nanti. Persiapan selesai, kita pasti berhasil!” Teriak pria yang memanggil dirinya sendiri Dux itu.

“Akan kuhajar kau Key saat aku pulang,” geram Sparry.

“Kau harus lebih mengecilkan dan memerdukan suaramu lagi Sparry honey~”

“Sudahlah Hyung, ayo cepat! Aku hanya bisa membantumu sampai dalam gedung, kalau ke ruangannya kau ikuti cara Dux!” Ujar Nix. Akhirnya mereka –Sparry dan Nix – bergegas keluar ruangan itu sambil bergandengan tangan.

“Hyung, kalau kau perempuan, aku pasti akan memacarimu,” bisik Nix ditelinga Sparry yang memang lebih pendek darinya.

“Kubunuh kau!” desis Sparry geram.

**

Akhirnya dua pria –yang satunya menyamar itu– berhenti di sebuh gedung megah. Mereka melirik satu sama lain dan mengangguk pasti, lalu melangkah masuk gedung itu sampai seorang wanita berpakaian pesta seperti mereka juga menghadang mereka.

“Surat undangannya Tuan?” Tanya wanita itu.

“Ini,” Nix menyerahkan sebuah surat pada wanita itu. Wanita itu melihat sebentar pada surat dan wajah Nix ragu.

“Anda Tuan Choi Minho?” Tanya wanita itu ragu-ragu.

“Ne, waeyo agasshi?” Tanya Nix heran.

“Bukankah Tuan berkata akan datang dengan adik Tuan?” Tanya wanita itu seolah enggan membiarkan Nix dan Sparry masuk.

“Aniyo, adikku sedang banyak tugas sekolah, sehingga dia tak bisa datang. Akhirnya aku membawa kekasihku yang baru pulang dari Swiss,” ujar Nix sambil merangkul Sparry yang kini berubah drastis menjadi sangat cantik.

“Oh, siapa nama kekasih anda ini? Saya akan menulisnya di daftar tamu,” ucap wanita itu sambil mengeluarkan buku kecil dari tasnya.

“Park Jinri. Namaku Park Jinri,” jawab Sparry lembut. Nix terbelalak, ‘Suaranya mirip sekali dengan perempuan!’

“Ne, silahkan masuk,” ujar wanita itu sambil mempersilahkan Nix dan Sparry masuk.

“Amazing honey~” bisik Nix.

“Of course,” balas Sparry bangga.

“Kali ini giliranmu Hyung, cepatlah berkomunikasi dengan Puerile, aku akan berusaha agar tak membuatmu terlihat mencurigakan,” perintah Nix. Sparry mengangguk. Dia segera menekan tindikan ditelinganya.

“Hyung! Lama sekali! Pabo!” Umpat Puerile.

“Hehe, mianhae Rile, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Sparry sambil berpura-pura  mengambil segelas minuman.

“Hyung, kau hanya punya waktu 4 menit untuk melenyapkannya, dia dan bodyguardnya yang kira-kira berjumlah 20 orang akan tiba sekitar satu menit lagi. Ruangan yang akan dijadikan transaksi adalah kamar nomor 112 di lantai dua,” jelas Puerile.

“Tunggu, kau bilang hanya empat menit? Lalu bagaimana caranya aku bisa menyusup dengan penjagaan yang seperti itu?” Sparry terlohat khawatir dengan waktu yang disusun oleh Puerile.

“Target kita kali ini orang besar, kita tak punya cukup waktu. Tapi aku sudah menyiapkan jalan untuk mas- eh apa dia sudah datang? Kau ingat kan wajahnya?” Tanya Puerile terlihat tergesa-gesa.

“Tentu saja, aku ingat wajah bedebah itu. Dia sudah datang,” jawab Sparry.

“Oke, kau segera naik ke lantai dua, disana juga masih pesta yang sama,” perintah Puerile. Sparry bergegas naik ke lantai dua.

“Lalu?” Tanya Sparry sambil agak terengah-engah.

“Kau harus santai Hyung, nanti make-up mu luntur. Selanjutnya masuk ke toilet yang khusus untuk tamu undangan, kalau tak tahu kau bisa tanyakan pada security, ara?” Perintah Puerile lagi. Sparry segera bergegas mencari toilet. Setelah bertanya pada security walaupun tadi alat pengubah suaranya sedikit mengalami masalah, akhirnya Sparry pun berhasil masuk ke toilet.

“Lalu?”

“Masuk ke bilik toilet nomor lima, lalu tekan paku ketiga  dari kanan yang ada diatas tissue toilet dengan keras. Sudah?” Tanya Puerile.

“Ne, apa kata sandinya?” Tanya Sparry. Puerile terkekeh pelan.

“Ucapkan yang sering kau ucapkan Hyung!” Balas Puerile.

“Maksudmu?” Tanya Sparry heran.

“Ya, yang sering kau ucapkan pada Dux Hyung kalau dia menggodamu Sparry honey~,” Jawab Puerile.

Shit! Aku bukan Sparry! Tapi Spear!”

Tiiit

Tiba-Tiba dari dinding yang ada di atas kloset terbuka sebuah lubang yang mungkin akan cukup untuk orang seukuran Sparry.

“Wow! I Love this job!” Gumam Sparry. Dia pun segera masuk ke lubang itu tanpa menunggu perintah dari Puerile lagi.

“Apa ini lift?” Tanya Sparry sambil meringis kesakitan karena kakinya tersiksa oleh high heels yang ia pakai.

“Ne, lift itu akan langsung sampai ke kamar target berada. Tepatnya di gudang kamar itu, aku sudah menyiapkan seragam karyawan hotel ini di gudang itu. Jadi ketika Hyung sudah sampai, kau harus langsung berganti pakaian, aku ingatkan lagi waktu melenyapkannya hanya empat menit, lift ini akan segera terdeteksi kamera CCTV yang disiapkan khusus kalau terjadi seperti ini,”

“Lalu kenapa kau tak membereskan kamera itu?” Tanya Sparry.

“Fuhrer menyuruh kita menghabisinya hari ini, dan sialnya dia baru member tugas ini kemarin, kau sudah sampai kan Hyung? Cepat ganti pakaian! Dia sudah ada di lorong dan akan masuk ke kamar itu, dan yup! Dia sudah masuk,”

“Cerewet! Aku sedang ganti nih! Lalu aku harus melakukan apa saat bertemu dengannya?” Tanya Sparry sambil mulai merapikan pakaiannya.

“Itu urusanmu Hyung! Aku hanya member instruksi padamu, soal hal yang berhubungan dengan bagianmu aku tak ambil bagian. Jangan ketahuan! Oh ya, kuulangi hanya empat menit, dan aku akan memberi tahu kalau waktunya habis,” jelas Puerile.

Sparry pun segera bertindak. Dia segera keluar dari gudang dan menemukan targetnya kali ini malah sedang sibuk bermain dengan wanita-wanita yang hampir tak berbusana.

“Siapa kau?!” Tanya targetnya kali ini.

“Josonghamnida Tuan, sa-saya tad-tadi sedang membersihkan kamar ini, tapi tak tahu kalau Anda sudah datang,” jawab Sparry sambil menunduk.

“Oh, gwenchana Nona manis, kau ada pekerjaan lagi?” Tanya si Target terlihat menggoda Sparry. Sparry hanya bisa mengumpat dalam hati.

“A-aniyo Tuan, pekerjaan saya sudah selesai,” jawab Sparry lagi sambil menggerutu dalam hatinya. Targetnya semakin mendekatinya, tercium bau alcohol yang menyeruak saat targetnya bernafas di dekat Sparry.

“Bagaimana kalau menemaniku saja honey?” Tanya si target sambil mulai mencoba mengelus pundak Sparry.

“Sungmin Oppa!!” Teriak wanita-wanita yang tadi ditinggalkan target yang bernama Sungmin itu.

“Bagaimana? Aku akan membayarmu lebih,” tawar Sungmin. Dia memegang dagu Sparry dan membelainya lembut. ‘Aku benci kalau seperti ini!’ Umpat Sparry.

“Tap-tapi, aku malu kalau dilihat mereka,” jawab Sparry sedikit mendesah sambil menunjuk wanita-wanita yang kesal padanya.

“Oh, itu urusan mudah, honey~ Kalian!! Cepat keluar!!” Perintah Sungmin dengan kasar. Mau tak mau wnita-wanita itu pun keluar sambil mengumpat pada Sparry. Sungmin pun mengajak Sparry untuk duduk.

“Jadi siapa namamu sweety?” Tanya Sungmin sambil mencium punggung tangan Sparry.

“Uhm, Lee Yeoreum Tuan,” jawab Sparry.

“Uhmm, nama yang bagus. Panggil saja aku Oppa, ara?” Suruh Sungmin. Kali ini Sungmin mulai nekat mendekati Sparry dan berusaha menciumnya.

“Tung-tunggu Oppa, aku dulu yang mulai. Oppa kau balik kebelakang dulu ya?” Goda Sparry sambil mengedipkan sebelah matanya. Sungmin mengangguk setuju, dia segera berbalik tanpa rasa curiga sedikit pun.

“Sebentar ya Oppa,” ucap Sparry lembut. Dia pun mengeluarkan suatu benda yang memiliki ujung yang tajam. Dia menjilat ujung yang tajam itu dengan semangat dan langsung menancapkan ujung dari benda itu ke leher Sungmin.

“ARGH!!” Teriak Sungmin keras. Dia berbalik dengan sisa kekuatannya.

“Apa Oppa?” Tanya Sparry sambil merobek leher Sungmin dengan santainya. Darah terus mengalir dari leher Sungmin. Sungmin pun mabruk di detik ke tujuh setelah Sparry merobek lehernya.

“Lee Sungmin. Putra direktur Lee Coorporation, yang mempunyai cabang hampir di 17 dunia. Melakukan kejahatan criminal yaitu korupsi dan memnunuh seorang pegawainya karena si pegawai mengetahui perbuatannya. Cih, tikus nakal!” Gumam Sparry sambil terus merobek leher hingga punggung Sungmin. Hingga komunikatornya berbunyi.

“Hyung, sudah waktunya, kau harus segera kabur, aku juga akan segera kabur dari sini, satu menit lagi security akan tiba di tempatmu! Hyung!! Kau dengar aku? Cepat kabur!!” Perintah Puerile. Sparry yang masih asyik bermain dengan punggung Sungmin tak menghiraukan peringatan Puerile.

“Hyung!! Cepat!! Aish!! Aku sudah kabur, tapi tak bisa berkonsentrasi kalau kau tak segera lari!!” Teriak Puerile sambil terengah-engah.

“Sparry honey~ kumohon! Tinggalkan aktivitasmu!! Cepat kabur! Aku dan Dux Hyung sudah menyiapkan jalan keluarmu!! Dua menit lagi security akan mengetahui hal ini!!” Key tiba-tiba masuk dalam pembicaraan di komunikator yang menuju ke Sparry.

“Aish! Ne!! Aku segera loncat!!” Umpat Sparry sambil mengumpat karena tak bisa membuat tubuh Sungmin seperti yang diinginkannya. Dia segera beralih ke jendela dari toilet dan bergegas loncat ke mobil yang memang sudah menunggunya di bawah.

“Mana Puerile??” Tanya Sparry yang tak mendapati salah satu kawannya tak ada dalam mobil pelariannya itu.

“Segera hubungi!” Perintah Dux cemas. Pasalnya dalam aksinya dia tak pernah mendapati masalah seperti ini.

“Pile?! Pile!! Oh come on!! Pile jawab aku!!” Teriak Key histeris saat mendapati Puerile tak menjawabnya.

“Kenapa Pile?” Tanya Nix heran. Key hanya menunduk pasrah.

“Ap-apa dia tertangkap?” Akhirnya Sparry mengeluarkan suaranya setelah masuk mobil itu.

“Sepertinya,” jawab Key. Dux hanya menunduk. Dia segera memacu mobilnya setelah dalam perjanjian waktu Puerile tak datang. Nix dan Key mencoba menahan Dux.

“Kalau kita tak pergi sekarang, kemungkinan kita juga akan tertangkap,” ujar Dux pelan. Akhirnya mereka pun meninggalkan lokasi, dan segera masuk ke tempat persembunyian mereka.

“Mianhae,” lirih Sparry. Nix, Key dan Dux menoleh pada Sparry yang kini hanya menunduk.

“Ya! Kau memang salah!! Bukankah Pile sudah berkata hanya empat menit?! Kenapa kau tak mematuhinya?!!” Teriak Nix.

“Mianhae,” lirih Sparry lagi.

“Sudahlah, lagipula walaupun tertangkap Pile tak akan membocorkan tentang kita dan dia akan segera memberitahukan keberadaanya dalam waktu kurang dari 40 jam,” sanggah Dux.

“Yang jadi masalah, apa yang akan kita laporkan pada Fuhrer kalau saat ini Pile tak ada?” Tanya Key. Dia menghapus butiran bening di matanya dengan kasar.

“Entahlah, aku yang akan membereskan ini, Fuhrer mungkin akan mengerti. Kalian tidurlah, aku akan segera menemui Fuhrer sekarang.” Suruh Dux. Key, Nix dan Sparry berjalan ke kamarnya dengan lesu.

-Keesokan Harinya-

“Bagaimana Hyung?” Tanya Sparry disela-sela acara makan pagi bersama.

“Fuhrer tak terlalu mempermasalahkan soal Pile, malah menanyakan apa kita masih bisa bertugas,” jawab Dux lesu.

“Fuhrer sialan!! Apa dia tak mempedulikan Pile sedikit pun? Shit!” Umpat Key kesal.

“Tapi aku meminta padanya kalau kita tak bisa bertugas jika tanpa Pile, dan mereka setuju akan membebaskan Pile yang kemungkinan disekap di bagian teroris,” jawab Dux lagi. Kali ini dia cukup semangat mengingat Fuhrer akan membebaskan Pile.

“Kenapa tak kita saja yang membebaskan Pile?” Tanya Nix. Dux menggeleng.

“Fuhrer berkata kalau kita yang membebaskannya kemungkinan kita akan mudah diketahui saat sedang bertugas. Jadi dia memutuskan akan menghubungi rekannya untuk bisa membebaskan Pile, tapi kemungkinan akan berlangsung lama,” jawab Dux. Nix mengangguk mengerti.

“Apa yang Fuhrer katakan tentang, aku?” Tanya Sparry takut-takut.

“Dia sedikit kecewa padamu, tai tak bisa membuangmu. Kau pembunuh yang paling baik yang dia temukan. Jangan khawatir honey,” jawab Dux sedikit kembali menggoda.

“Oh, Hyung,” balas Sparry sedikit kesal. Tapi juga senang karena suasana diantara mereka berempat sudah kembali seperti biasa walaupun tak lengkap tanpa Puerile.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan selama menunggu Pile dibebaskan?” Tanya Key heran.

“Fuhrer berkata sebaiknya kita berbaur dengan masyarakat, dan mencari informasi tentang Pile, mungkin ada yang bisa tahu dimana jika kawanan pembunuh disekap,” jelas Dux.

“Dan? Maksud berbaur, apa yang dikatakan Fuhrer?” Tanya Sparry.

“Kita akan menyamar, soal penyamaran ini aku sudah merundingkannya dengan Fuhrer. Sudah diputuskan kita akan memakai nama asli kita kembali,” terang Dux.

“Maksudmu? Kenapa kita harus memakai nama asli kita?” Tanya Nix yang cukup penasaran.

“Kau pikir masyarakat bisa menerima kalau kita menyuruh mereka memanggil kita dengan code name seperti ini?” Ujar Dux.

“Ehmm, sepertinya ya. Tapi tidak sepertinya,” balas Key.

“Jadi aku menjadi Kim Jonghyun kembali?” tanya Sparry.

“Dan aku Choi Minho?” Nix pun ikut ambil suara.

“Yeah, Kibum? Dan kau Jinki?” sambung Key. Dux mengangguk.

“Dan biasakan memanggil yang lain dengan namanya bukan code namenya, itu perintah Fuhrer. Dan ada pembagian tugas penyamaran,” Dux alias Jinki mengeluarkan kertas dari saku celananya.

“Aku menjadi guru sekolah, Jonghyun kau menjadi murid sekolah, Minho, kau kembali ke aktivitas aslimu, Key kau bekerja di restoran Minho,”

“Tunggu!! Kenapa hanya aku yang jadi anak maksudku murid sekolah?? Kenapa bukan Ni- maksudku Minho dan K-Kibum yang menjadi murid sekolah?” Protes Jonghyun.

“Fuhrer mengatakan, Minho tak menjadi murid seklah karena dia sudah mempunyai statusnya sendiri di masyarakat. Sedangkan Kibum, Fuhrer mengetahui bakatnya dalam hal lain selain penyamaran, yaitu memasak, jadi dia di tempatkan di restorannya Minho,” terang Jinki.

“Aku sudah mendaftarkanmu di salah satu sekolah di Seoul, dan aku juga akan jadi guru disana. Penyamaran ini akan kita mulai besok, Fuhrer akan mengirimkan keperluan yang kita perlukan untuk kegiatan kita kali ini, ara? Tanpa protes lagi.” Jelas Jinki mengakhiri rapat tak terduga itu.

Uh, shit!” Umpat Jonghyun.

 

Darkness Status : To Be Continued

 

Annyeong~!!

pada menunggu yang part dua kah??

hihi,

ayo jangan lupa komen!!

 

See You On Next Part

Be A Good Readers Please …


Advertisements

2 comments on “Darkness [part 1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s