I’m Another [Part 1]

Title : I’m Another [Part 1]

Author : ilmacuccha

Cast : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Key a.k.a Kim Kibum, Song Hyerim (Author) –>> ikut eksis

Genre : Family, fluff,

Rate : PG13

Length : Not sure

Poster and Thanks To : Rara Unn a.k.a cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

Disclaimer : Plotnya punyaku!! Jonghyun dan Key juga!!

Be a Good Readers Please ..

Not For Silent Readers !!

Normal P.O.V

“Cepat! Ulurkan tanganmu! Kita memerlukan darahnya!” Perintah seorang pria setengah gelisah melihat wanita yang disampingnya tak mau juga mengulurkan tangannya.

“Apa ini memang yang terbaik?” Tanya wanita ragu. Si pria menganggukkan kepalanya mantap, si wanita menatap pria itu dengan tatapan ragunya lagi. 

“Kumohon, bukankah ini untuk buah hati kita juga?” Tanya si pria membuat keraguan si wanita hancur. Wanita itu pun mengulurkan lengannya, si pria dengan hati-hati menyayat lengan wanita itu. Dia mengumpulkan darah yang mengalir dari lengan wanita itu dengan wadah yang sudah terisi dengan darah juga. Darah si pria itu. Si wanita meringis kesakitan, saat si pria menahan aliran darah wanita itu dengan menalikan kain di daerah lukanya. Di tengah ruangan gelap yang hanya diterangi lilin. Si pria mengaduk darahnya dengan darah wanita itu. Kemudian mencelupkan jarinya di wadah itu dan menggambar sesuatu di lantai yang dingin itu dengan darah yang ada ditangannya.

Hal itu terus dilakukan sampai si pria berhasil menggambar sebuah lingkaran darah dengan gambar bintang yang terdapat di dalam lingkaran itu. Si pria tersenyum puas, dia menyuruh wanita itu meletakkan seorang anak ditengah lingkaran itu.

“Ayo, kita ucapkan bersama,” ajak si pria. Mereka pun mengucapkan kata-kata aneh sambil ujung jarinya menyentuh ujung gambar bintang itu. Mereka masih khusyuk mengucapkan kata aneh saat sebuah cahaya muncul dari ujung bintang dan gambar lingkaran itu. Mereka melepas jarinya dan saling berpegangan. Berharap apa yang mereka lakukan dari kegiatan ini berhasil. Cahaya itu masih belum pudar membuat wanita tadi menjadi khawatir. Si pria menggenggam tangan wanita erat dan mencium punggung tangannya lembut untuk menenangkan wanita itu.

Cahaya pun memudar, mereka melihat anak yang diletakkan di lingkaran tadi masih tak bereaksi apa-apa. Si wanita menggapai anak itu, menyentuh wajahnya dengan penuh khawatir. Memegang dadanya dan berharap ada sesuatu yang berdetak dari dalam sana. Si pria melihat wanita itu, memandang anak dalam pangkuannya itu dengan rasa iba.

“Gagal,” gumamnya sambil meneteskan sebutir air mata.

Sepuluh tahun kemudian …

Seorang remaja laki-laki baru saja bangun dari tidurnya. Masih dalam keadaan setengah sadarnya, dia pergi mandi dan bersiap ke aktivitas rutinnya setiap Senin sampai Jum’at. Sekolah.

Trililit.. Trililit..

Ponsel remaja itu berbunyi sampai membuat dia menghentikan aktivitasnya dari mengancingkan seragamnya. Terlihat wajah yang masih kusut juga rambut yang acak-acakan membuatnya tak terlihat seperti anak sekolahan. Ditambah lagi dengan rambut tiga warnanya yang akan disebut rambut teraneh di sekolahnya, dia bahkan sampai rela membersihkan toilet sekolah setiap pagi demi mempertahankan eksistensi rambu tiga warnanya itu.

“Yoboseyo?” Sapanya pada si penelepon.

“Dimana? Udah jam tujuh nih,” balas si penelepon.

“Baru jam tujuh juga. Ya udah duluan aja! Bilangin aku telat ke Cho Songsaenim,” tanggap remaja itu sambil menutup percakapan mayanya. Dia pun segera mengancingkan seragamnya yang sempat tertunda, memakaikan gel ke rambutnya dan merapikan wajahnya.

“Sekolah lagi, sekolah lagi,” gumamnya sambil menyandang tas yang sebenarnya hanya berisi satu buku itu. Remaja itu pun keluar dari kamarnya dan turun dari lantai dua ke ruang makan dan mendapati ruang makannya kelebihan 3 orang dari satu keluarga yang hanya memiliki satu anak.

“Mau apa disini?” Tanya remaja itu datar.

“Jjongie jahat amat!” balas salah satu dari 3 orang tak diundang itu.

“Ya, Hyung, kau kok judes gitu sih?” Tambah dari yang lainnya yang diikuti anggukan kepala dari seorang yang terakhir.

“Peduli,” balas remaja yang dipanggil Jjong itu datar dan dingin. Mereka –tiga orang tak diundang- itu hanya cekikikan kecil sambil sibuk melahap makanan yang tersedia di meja makan remaja itu.

“Jonghyun! Umma pergi dulu ya, Appa katanya hari ini pulang, jadi kau pulang cepat ya?” Tanya wanita paruh baya yang sudah siap dengan rapihnya.

“Hmm,” timpal remaja yang disebut Jonghyun itu. Ummanya mencium kening Jonghyun dan segera meninggalkan ruang makan yang kini hanya berisi empat remaja.

“Tadi mau apa telepon kalau Hyung sudah disini?” Tanya Jonghyun pada salah seorang remaja yang innocent masih makan walaupun bukan di rumahnya.

“Hmm?”

“Kau bicara banyak Hyung!”

“Yeah, hanya ingin mengetes apa kau sudah bangun atau belum,”

Ketiganya menjawab dengan serempak. Jonghyun hanya diam sambil terus memakan roti isinya. Mereka makan dalam diam. Sampai Jonghyun berdiri dan membuat ketiga temannya bertanya-tanya.

“Kenapa? Jadi sekolah?” Tanya salah seorang temannya yang mempunyai gigi kelinci itu.

“Tentu, kau pikir aku tak pernah sekolah?” Balas Jonghyun.

“Kau selalu Hyung, selalu tak sekolah,” timpal seorang remaja imut sambil menegak susunya.

“Huh, sudah ayo cepat! Hyung! Bukannya kau ketua OSIS? Kenapa masih disini?” Tanya teman Jonghyun yang jangkung pada si gigi kelinci itu.

“Ayo!” Seru remaja gigi kelinci. Mereka pun mengikuti ketua grupnya yang aneh itu. Akhirnya empat remaja itu pun berangkat sekolah, walaupun sebenarnya mereka sudah telat satu jam untuk anak sekolah. Keempat mobil mewah yang dikendarai empat remaja tampan itu akhirnya sampai di areal parkir sekolah. Mereka bebas melenggang masuk ke dalam sekolah walaupun mereka terbilang telat. Yah, pasti kalian tahu dengan uang segalanya pun bisa.

“Eh, Jonghyun-sshi?” Suara seorang remaja perempuan mengagetkan mereka berempat. Tiga teman dari Jonghyun itu menatap Jonghyun dan remaja perempuan itu sekilas, lalu tersenyum.

“Akan kusampaikan salammu pada Cho Songsaenim, annyeong Jjongie!” Seru si gigi kelinci itu.

“Eh, kau baru datang?” Tanya si remaja perempuan itu memulai pembicaraan.

“Ah, ne,” jawab Jonghyun gugup.

“Lalu kau tak masuk kelas dengan temanmu?” Tanya remaja perempuan itu lagi.

“Aniyo, eh, ne, eh, mollayo~ kau sendiri Hyerim-sshi?” Kali ini Jonghyun yang bertanya.

“Aku disuruh Lee Songsaenim membawa bukunya yang tertinggal di perpustakaan. Ehm, aku duluan ya Jonghyun-sshi, annyeong!” Ujar remaja yang bernama Hyerim itu sambil membungkuk.

“Hari yang indah,” gumam Jonghyun. Dia pun segera berlari ke kelas menyusul teman-temannya yang mungkin sudah menyampaikan salamnya pada Cho Songsaenim.

***

Jonghyun merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Dia baru saja pulang dari aktivitas sehari-harinya, sekolah. Ditambah tadi harus menjemput Appanya yang baru pulang dari Prancis, membuat tubuhnya semakin remuk dibuatnya.

Tok-Tok-Tok

Sebuah ketukan bersarang di pintu kamarnya Jonghyun. Dengan malas dia membuka pintu kamarnya itu dan mendapati Umma-nya sedang berdiri di depan pintunya dengan berwajah kesal.

“Eh, waeyo Umma?” Tanya Jonghyun heran.

“Appamu harus terbang lagi ke Prancis, dia tak bisa liburan disini sekarang, Umma mau mengantar Appamu ke bandara, kau ikut?” Tawar Ummanya. Jonghyun menggeleng.

“Aniyo, aku capek Umma. Aku di rumah saja ya?” Harap Jonghyun. Ummanya mengangguk kemudian mengecup kening Jonghyun pelan. Dan meninggalkan anaknya sendirian di rumahnya, setidaknya masih ada pembantunya yang bisa diandalkan.

Selepas Ummanya pergi, Jonghyun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Tanpa sadar matanya pun terlelap.

***

“Ya!! Jjong!! Jjongie!! Bangun!!”

“Jjongie!! Bangun!! Aish!!”

“Bangun!!”

Jonghyun mengerjapkan matanya. Dia mendapati seorang remaja lelaki seusianya sedang duduk disampingnya sambil menatapnya. Wajahnya yang putih pucat, ditambah rambutnya yang terbilang aneh karena rontok sebelah (pikiran Jonghyun) dan parasnya yang tampan tapi imut itu membuat kesadaran Jonghyun menjadi penuh. Dia melihat jam yang ada di meja kecilnya, 3 a.m. Sudah terlalu pagi untuk mengigau ‘pikir Jonghyun. Dia kembali menatap remaja lelaki itu dengan tatapan heran.

“Kau kenapa sih? Menatapku seperti itu?” Tanya remaja itu. Jonghyun mengernyitkan dahinya. Dia merasa tak pernah memiliki saudara jauh ataupun dekat, teman SD-SMP-SMA yang mempunyai paras seperti itu. Dia juga merasa tak pernah memiliki guru muda berparas seperti remaja yang ada dihadapannya sekarang. ‘Apa dia pembantu yang baru?’ Pikir Jonghyun. Dia masih menekuk wajahnya sambil berusaha berpikir. Sebodoh-bodohnya dia, dia tak akan pernah melupakan temannya.

“Eh, kenapa sih?” Tanya remaja itu.

“Oke, aku menyerah. Kau siapa?” Tanya Jonghyun sedikit kesal. Yah, mengingat adalah keahliannya. Kecuali angka-angka matematika yang sudah menjadi tanggung jawab Jinki si ketua grup.

“He?” Si remaja aneh itu malah mengernyitkan dahinya dan memandang Jonghyun dengan tatapan heran. Jonghyun masih menatap wajah remaja aneh itu, berharap perpustakaan pribadinya bisa mengingat wajahnya.

“Hei, kau tak mengenaliku?” Tanya remaja itu dengan tatapan sendu.

“Molla, aku bahkan seperti tak pernah mengenalimu. Hei! Kalau kau merasa pernah mempunyai hubungan denganku, katakan padaku! Ingatanku buruk kali ini,” balas Jonghyun.

“Kau benar-benar tak mengingatku? Oh, apa tak ingat wajahku yang lebih tampan darimu itu?” Tanya remaja aneh itu. Jonghyun terbelalak, dia bahkan tak mengenali orang ini tapi orang ini malah bercanda seolah dia sudah kenal sejak lama.

“Hei!! Kau tahu dibanding wajahmu yang rongsokan itu! Wajahku masih lebih tampan darimu!!” Sanggah Jonghyun. Remaja itu tertawa, dia malah menepuk pundak Jonghyun dan sekarang duduk di samping Jonghyun.

“Masih saja selalu narsis,” gumamnya. Lagi-lagi Jonghyun mengernyitkan dahinya.

“Kau siapa sih? Datang jam tiga pagi, mengajakku bercanda seolah kau ini memang dekat denganku, membandingkan wajahmu dengan wajahku. Dan oh! Aku bahkan tak mengenalmu! Kau tak ada dalam daftar teman SD-SMP bahkan teman SMA, juga teman kursus, teman band, teman dari sekolah lain, anak teman orangtuaku, preman yang kukenal, guru muda, saudara jauh maupun dekat, dan juga daaftar pembantu dan mantan pembantu, kau bukan salah satu dari itu! Come on!! Beritahu aku, KAU INI SIAPA??” Tanya Jonghyun menggebu-gebu. Remaja tak dikenal itu menghela nafas pelan, seolah tak percaya dengan pernyataan Jonghyun yang tidak mengenal dirinya. Dia menatap Jonghyun tajam.

“Pembantu? Sialan kau Jjong!! Ya sudah, jangan kaet oke? Bagaimana kalau aku bilang kalau aku saudara kembarmu?” Ucapnya yang bisa langsung membuat mata dan telinga Jonghyun putus saking kagetnya.

“Sa-sa-sauda-dara k-k-k-k-emb-bar?” Jonghyun berbalik bertanya.

“Sejak kapan kau jadi gagu Jjong?” Ledeknya sambil tertawa. Jonghyun menahan tertawaan remaja itu dengan membekap mulutnya.

“Aku serius bodoh!” Bentak Jonghyun.

“Oke, jangan marah begitu Jjong, just relax bro!” Ujarnya. Jonghyun menghela nafasnya.

“Jadi?”

“Ya, seperti yang tadi aku katakan, aku ini adalah saudara kembarmu. Namaku Kim Kibum. Kau lahir lebih cepat dariku lima menit 23,4 detik. Oh! Aku jadi sebal jika mengingatnya!” Terang remaja bernama Kibum itu. Jonghyun untuk kesekian kalinya kembali mengernyitkan dahinya.

“Kibum?”

“Ne, apa kau sudah ingat?” Harap Kibum cemas. Jonghyun menggeleng.

“Kenapa kau tak mirip denganku jika kita saudara kembar?” Tanya Jonghyun.

“Kau pikir saudara kembar harus mirip segalanya. Tidak akan selalu Jjong!” Jawab Kibum.

“Lalu, kenapa Umma dan Appa tak memberitahu kalau aku mempunyai saudara kembar? Lalu kenapa kau tidak tinggal disini? Kenapa tak ada satu foto pun yang berhubungan denganmu? Dan yang paling penting…” Jonghyun menahan kata-katanya.

“Apa yang paling penting?” Tanya Kibum penasaran.

“Kenapa rambutmu begitu aneh, kau tahu, hanya rambutku yang orang sebut aneh. Ternyata rambutmu lebih aneh,” ujar Jonghyun polos.

“Bodoh! Aku kira apa!” Geram Kibum. Mereka pun tertawa.

“Jadi apa jawabanmu atas semua pertanyaanku tadi?” Tanya Jonghyun.

“Semua pertanyaan itu hanya ada satu jawabannya Jjongie. Karena, karena-,”

“Ugh, karena apa?” Jonghyun semakin penasaran.

“Kau jangan kaget oke?” Jonghyun mengangguk.

“Bagaimana kalau aku bilang aku sudah mati?” Balasnya setengah bertanya.

“Kau berbohong lagi,” timpal Jonghyun.

“Tidak,” jawab Kibum.

“Bohong itu ada batasnya,” lanjut Jonghyun.

“Aku tidak berbohong,” sanggah Kibum.

I’m Another status : To Be Continued

Annyeong–

I’m back with series FF !! tapi aku ragu apa ini part 1 ato prolog ya? Haha

semoga kalian suka ya??

Apa masih ada yang mau memberi SARAN ??

Note :

Please Leave a Comment—

See You on Next Part!!

Advertisements

One comment on “I’m Another [Part 1]

  1. Pingback: I’m Another [Part-2] « Song Hyerim's Station

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s