I’m Another [Part-2]

Title : I’m Another [Part 2]

Author : ilmacuccha

Cast : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Key a.k.a Kim Kibum, Song Hyerim (Author) –>> ikut eksis

Genre : Family, fluff,

Rate : PG13

Length : Not sure

Previous : Part 1

Poster and Thanks To : Rara Unn a.k.a cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

Disclaimer : Plotnya punyaku!! Jonghyun dan Key juga!!


Be a Good Readers Please ..

Not For Silent Readers !!

Baca = Harus KOMEN!!

“Aku tidak berbohong,” sanggah Kibum.

“Aku tak percaya,” Jonghyun melipat tangannya di dada. Dia melihat Kibum, dia –Kibum- berkata kalau dia adalah saudara kembarnya, dan sekarang dia mengatakan kalau dia sudah mati!! Oh! Jonghyun harap dunia terbalik sekarang!!

“Kau harus! Ini benar!! Kau tak lihat warna kulitku? Pucat!” Ujar Kibum.

“Lalu kenapa kau bisa duduk, lalu berjalan, yang kutahu yang sudah mati itu pasti yah you know, melayang. Yah, semacam itulah,” Jonghyun menyanggah ucapan Kibum dengan ragu. 

“Yah, untuk itu, aku- ah! Entahlah! Jangan tanya aku! Aku juga tak mengerti, mungkin karena lingkaran alchemist itu,” ujar Kibum tak meyakinkan.

“Lingkaran alchemist?” Tanya Jonghyun. ‘Orang yang menyusahkan,’ pikirnya.

“Yah, kau tahu Fullmetal Alchemist, itu sebuah komik dan lingkaran itu benar-benar mirip dengan apa yang Umma dan Appa kita lakukan saat ingin menghidupkanku lagi,”

“Maksudmu? Oh, jangan membuatku pusing!” Titah Jonghyun.

“Yah, lingkaran alchemist digambar dengan darah orangtua kita, kemudian meletakkanku di atas lingkaran, mengucapkan mantra aneh, tapi tak berhasil. Kalau kau bertanya darimana aku tahu hal ini, jangan bertanya padaku. Hal ini menjadi ingatanku yang paling pertama kuingat.” Terang Kibum.

“Kau serius? Mungkin jawabannya ada di komik itu! Ayo kita cari!” Seru Jonghyun. Kibum terbahak-bahak.

“Kau percaya? Hihi, yang aku ceritakan hanya fiksi. Lagipula yang sama hanya lingkarannya saja, sedangkan komik fullmetal alchemist itu tak perlu mantra aneh. Dan aku membacanya di perpustakaan sekolah,” jawab Kibum sambil mengelas sudut matanya yang sedikit berair, karena terlalu keras tertawa.

“Lalu, kau mati kenapa?”

“Kecelakaan. Saat aku dan kau berumur 7 tahun. Sebenarnya kau juga hampir mati saat itu, yah, mungkin Tuhan sayang padamu jadi kau dibiarkan hidup walaupun akhirnya kau amnesia. Buktinya kau tak mengenalku sekarang,” Jonghyun terhenyak. Dia menunduk, ingin menangis. Walaupun masih setengah tak percaya kalau dia adalah sudara kembarnya, satu darah dengannya, dan sekarang yang ada dihadapannya saat ini adalah rohnya. Tak bisa merasakan apa yang dia rasakan, hampa.

“Kau menangis Jjong?” Tanya Kibum.

“Bodoh! Tak mungkin lah! Aku tak akan menangis bodoh! Kau justru yang menangis!” Sanggah Jonghyun.

“Yang aku anehkan, kenapa kau bisa tumbuh, lalu kenapa kau baru muncul saat ini, kau tinggal dimana selama ini, kemudian kenapa kau bisa menyentuhku, dan yang paling ku anehkan adalah… Apa di dunia roh ada salon?” Kibum terbahak. Dia memegang perutnya berusaha menahan tawanya yang meledak karena ucapan saudaranya yang terbilang tak masuk akal dan bodoh itu.

“Hei! Aku sesuai kenyataan! Lihat rambutmu!! Kau potong rambut dimana coba? Kalau memang di dunimu ada salon,” lanjut Jonghyun. Kibum berhenti tertawa.

“Yah, kalau kau ingin menjadi roh dulu, mungkin kau akan tahu jawabannya,” jawab Kibum sambil menepuk pelan kepala saudaranya itu.

“Mengenai aku tumbuh, baru bisa muncul saat ini, aku bisa menyentuhmu, itu bukan urusanmu, yang pasti sebenarnya sejak setahun yang lalu aku selalu ada di kamarmu bodoh!” Jawab Kibum.

“Pantas saja aku selalu merasa ada aura Mak Lampir dari kamarku,” celetuk Jonghyun. Kibum berbaring.

“Tidurlah Jjongie, kau kan butuh istirahat, sudah jam empat, masih ada waktu untukmu agar bisa tidur,” perintah Kibum.

“Bukannya dari tadi,” balas Jonghyun. Dia ikut berbaring disamping Kibum. Melihat wajah saudaranya dengan penuh rasa heran dan penasaran.

“Memangnya roh bisa tidur?” Tanya Jonghyun disela-sela kantuknya.

“Yah, tergantung,” jawab Kibum.

“Ya sudah, selamat tidur saudara kembar yang baru aku tahu,”

“Yah, selamat tidur,”

***

Jonghyun mengerjapkan matanya, menengok ke sampingnya, dan tak mendapati remaja yang mengaku sebagai saudaranya itu tak ada lagi disana.

“Mimpi?” Gumamnya heran. Dia pun tak mengacuhkannya lalu segera bergegas mandi. Kali ini dia sudah siap dengan segala sesuatunya walaupun tetap hanya ada satu buku di dalam tasnya. Dia masih melirik-lirik ke setiap sudut kamarnya, entah berharap Kibum ada, atau berharap yang tadi hanya mimpi.

“Huh, tak ada.” Gumamnya lagi.

“Mencariku?” Tanya seseorang dari belakang Jonghyun.

“Ash!! Sejak kapan kau disitu?!” Tanya Jonghyun kaget. Kibum terkikik.

“Kau lupa kalau aku roh?” Jelasnya. Jonghyun hanya mengangguk enggan. Dia segera keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Tanpa dikomando, Kibum pun ikut mengekor di belakang Jonghyun.

“Kenapa?” Tanya Jonghyun disela-sela perjalanannya menuju ruang makan.

“Kenapa apa?” Kibum malah terheran.

“Kau,” jawab Jonghyun.

“Huh? Aku? Memangnya kenapa?” Kibum kembali bertanya.

“Aish! Kenapa mengekor padaku?” Balas Jonghyun rada sebal.

“Lagian masa aku ditinggal? Terus kalau mau tanya itu jangan setengah-setengah! Bikin pusing tahu!” Gerutu Kibum.

“Jinki yang tukang tahu,” balas Jonghyun. Dia kini tengah duduk di ruang makan dengan makanan yang sudah berlimpah dari tadi. Yang pasti ditambah dengan tiga orang tak diundang juga.

“Oh, Jinki itu yang jangkung bukan?” Tebak Kibum.

“Itu Minho,” jawab Jonghyun. Minho –teman Jonghyun yang jangkung- merasa namanya disebut itu menolehkan wajahnya ke Jonghyun.

“Apa?” Tanya Minho pernasaran.

“Bukan apa-apa,” ujar Jonghyun.

“Terus apa yang mungil dan manis itu?” Kibum yang berada di belakang Jonghyun masih berusaha menebak siapakah gerangan Jinki yang disebut-sebut saudara kembarnya itu.

“Itu Taemin!” Jawab Jonghyun sedikit kesal lantaran kegiatan makannya terganggu oleh ulah saudara kembarnya itu.

“Apa Hyung?” Seperti Minho, Taemin yang merasa namanya disebut itu ikut bertanya hal yang sama pada Jonghyun.

“Aniyo,” balas Jonghyun. Taemin pun mengangkat bahunya dan kembali meneruskan acara makannya.

“Berarti tinggal yang itu,” Kibum menunjuk si pemilik nama Jinki dengan benar.

“Daritadi kek,” ujar Jonghyun. Kibum hanya terkekeh, dan mengamati Jonghyun yang sibuk memakan sarapannya dengan lahap. ‘Aku juga pernah makan sebelumnya,’ batin Kibum dalam hati seolah menghibur dirinya sendiri.

“Kau disini saja ya, jangan ikut aku,” ucap Jonghyun. Ketiga temannya menoleh.

“Hah? Kita kan mau sekolah Hyung, kok aku disuruh diam dirumahmu sih?” Timpal Taemin. Jinki dan Minho hanya mengangguk mengamini ucapan Taemin.

“Bukan kau Taem,” sanggah Jonghyun.

“Lalu pada siapa?” Tanya Jinki dan Minho berbarengan.

“Bukan kami kan?” Jinki dan Minho lagi-lagi berkata hal yang sama.

“Ya, engh- itu, ah! Sudahlah tak usah dibahas!” Ujar Jonghyun sambil bangkit dari kursinya. Ketiga temannya pun mengikuti. Termasuk Kibum tentunya.

“Aku ikut ya Jjongie,” rengek Kibum. Jonghyun mendelik pada saudaranya yang tak akan bisa dilihat orang lain itu.

“Terserah, tapi jangan berulah!” Bisik Jonghyun pada saudaranya itu. Akhirnya tiga orang dan satu roh itu pun langsung bergegas menuju sekolah dengan mobilnya masihg-masing. Waktu menunjukan pukul setengah delapan. Suatu kemajuan besar bagi guru-guru sekolah mereka jika mereka datang hanya telat tiga puluh menit. Seperti biasa, gerbang sekolah selalu terbuka bagi mereka walaupun mereka datang saat jam pelajaran berakhir, yah sudah dibilang, uang bisa menjadikan segalanya. Mobil mereka terparkir sempurna dengan urutan Jinki-Jonghyun-Minho-Taemin. Kibum? Tentu saja tidak, dia kan roh.

“Kau mau menyampaikan salam kali ini pada Park Songsaenim?” Tanya Jinki ketika melihat seorang perempuan sedang berjalan ke arah mereka. Jonghyun mendelik, baru saja dia akan mengucapkan sesuatu, teman-teman grupnya itu meninggalkannya dengan degup jantungnya yang lari marathon.

“Ya! Jjong! Kau jangan gugup seperti ini!” Bisik Kibum.

“Heh? Maksudmu?” Tanya Jjong.

“Sudahlah, aku tahu kau itu dengan yeoja itu yah, kau kan, pokoknya aku tahu!” Seru Kibum. Jonghyun menatap tajam Kibum. Sedangkan yang ditatap dengan tajam malah semakin mengencangkan tawanya.

“Annyeong Jonghyun-sshi! Kau terlambat lagi?” Tanya perempuan yang bernama Song Hyerim itu. Jonghyun menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Ah, ne. Kau sendiri sedang apa disini? Apa mau mengambil buku lagi?” Tanya Jonghyun dengan sedikit meminjam karisma Minho. Yah, dia tak ingin terlihat gugup di depan perempuan ini.

“Yup! Karena aku ketua kelas, jadi aku yang bertugas dalam ini,” jawabnya. Jonghyun hanya ber’oh’ ria.

“Ah! Ya sudah, aku duluan ya Jonghyun-sshi! Kalau aku ketua kelas di kelasmu, kau pasti akan kuhukum! Haha! Annyeong!” Serunya sambil tertawa kecil.

“Ah, ne, annyeong Hyerim-sshi,” balas Jonghyun ramah. Dia tersenyum kecil. Kemudian melangkah kakinya dengan semangat dan bersiul kecil.

“Hihi,” Kibum terkikik melihat kelakuan saudaranya itu. Dia juga ikut berjalan, ingat? Itu keistimewaan dia yang tak pernah diketahui.

***

“Tadi bagaimana?” Tanya Jinki menyelidik.

“Bagaimana apanya?” Balas Jonghyun enggan. Dia sepertinya sudah tahu arah pembicaraan yang akan diutarakan namja bergigi kelinci itu.

“Kau Hyung! Dengan Hyerim Noona!” Seru Taemin.

“Berhentilah memanggilnya Hyung Taem! Dia kan hanya berbeda delapan bulan darimu!” Seru Minho. Dia juga lebih muda dari Jonghyun, walau hanya tiga bulan.

“Biarin Hyung! Kalian semua kan memang lebih tua dariku,” balas Taemin polos.

“Sudahlah! Jangan bahas itu! Jadi bagaimana?” Potong Jinki.

“Bagaimana apanya?” Balas Jonghyun sambil berpura-pura tak tahu.

“Aish! Hyung! Ceritakan! Apa yang tadi terjadi!” Ujar Taemin. Jonghyun menghela nafas.

“Tidak ada apa-apa, hanya mengobrol,” balas Jonghyun pendek. Kibum yang tahu semuanya hanya terkikik.

“Huh, kau tak asyik Hyung!” Keluh Taemin. Jonghyun mendengus.

“Memangnya aku mainan?” Balas Jonghyun tak peduli.

“Eh, ada yang ingin kubicarakan!” Seru Minho yang sedari tadi hanya berbicara sepatah-dua patah kata.

“Apa?” Tanya Jinki dan Taemin penasaran.

“Apa kalian merasa ada aura aneh disini? Dari tadi aku merasa bulu kudukku merinding,” ucap Minho. Jonghyun yang tadinya tak tertarik langsung ikut bergabung dengan ketiga temannya itu.

“Ah! Ne! Aku juga! Bahkan sejak berangkat dari rumah Jonghyun Hyung!” Seru Taemin. Jonghyun mulai tahu arah pembicaraan ini.

“Kalau Hyung?” Tanya Minho pada Jinki.

“Hehe, aku daritadi hanya memikirkan ayam yang tadi pagi tak jadi kumakan. Aku jadi tak merasakan apapun, hehe. Mian,” balas Jinki sambil nyengir kuda.

“Dasar kau ini! Kemarin tahu! Sekarang ayam!” Ujar Minho sambil meninju pelan pundak Jinki.

“Kalau kau Hyung?” Tanya Taemin pada Jonghyun yang daritadi hanya terkekeh mendengar pembicaraan mereka.

“Aku juga, bahkan dari malam kemarin. Auranya seperti Mak Lampir,” ujar Jonghyun sambil menahan tawanya. Key yang tadinya ikut terkikik bersama Jonghyun langsung meninju punggung Jonghyun kesal.

“Argh! Sakit pabo!!” Geram Jonghyun. Jinki dan kawan-kawan menatap Jonghyun heran.

“Aku tak memukulmu kok Hyung,” ujar Taemin.

“Asalnya sih, tapi tadi kau teriak duluan,” ujar Minho.

“Aku tak ikutan,” ucap Jinki.

“Eh, tadi kakiku menendang meja,” sanggah Jonghyun. Dia mengusap pelan punggungnya, berpikir heran kenapa roh bisa memukulnya.

Drrt..Drrt

Ponsel Jonghyun yang disimpan di meja bergetar. Dia pun segera mengambilnya dan melihat pesan yang masuk di ponselnya.

From : Ms Song

Eh, Jonghyun-sshi. Kau meminjam buku kimiaku tidak? Kalau tak salah kemarin kau bilang meminjam buku kimiaku dari Jinki-sshi.

Jonghyun tersenyum tipis. Lalu mengetikkan balasan bagi yeoja itu.

To : Ms Song

Ne, aku meminjamnya dari si tukang ayam itu. Aku sudah selesai kok, mau kau bawa?

Jonghyun menekan tombol send sambil tetap menampakkan senyum dari bibirnya.

“Jonghyun Hyung aneh,” ujar Taemin.

“Yah, dia memang selalu aneh Min,” timpal Minho. Ponsel Jonghyun pun kembali bergetar, dengan senyum yang merekah Jonghyun kembali membuka pesan yang ada di ponselnya itu.

From : Ms Song

Haha, tukang ayam? Dia memang juragannya, hihi. Ne, besok ada pelajarannya >.<, aku ke kelasmu nanti sepulang sekolah,

Jonghyun berpikir sejenak. Lalu mulai menungkan isi pikirannya di pesannya itu.

To : Ms Song

Aniyo! Bagaimana kalau kita pergi ke kedai es krim dulu, baru aku akan memberikan bukunya padamu!

Klik! Tombol send pun di tekan lagi oleh Jonghyun. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi.

From : Ms Song

Aih, geurae. Lagipula aku sedang tak banyak tugas.

“Yeah!!!! Berhasil!!” Teriak Jonghyun.

“Apa? Kencan?” Tanya Jinki.

“Hihi, Hyung sudah dewasa!” Seru Taemin. Minho menjitak kepala Taemin pelan.

“Tentu saja! Tidak seperti kau, tetap childish!!” Ujar Minho. Taemin hanya mengumpat pelan.

“Good luck Jjongie!” Teriak Kibum.

“Gomawoyo Kibum-ah!” Seru Jonghyun pelan.

***

Jonghyun menatap yeoja yang ada di depannya itu. Dia terus melahap es krimnya tanpa menyadari kalau dia malah sedang diperhatikan oleh Jonghyun. Jonghyun tak konsentrasi, seperti biasa jantungnya selalu melebihi batas normal yang dianjurkan jika sedang bersama dengan yeoja yang bernama Song Hyerim itu.

“Kau habis marathon?” Tanya Kibum basa-basi.

“Heh?” Jonghyun menoleh dan berkata pelan pada saudara yang tak terlihat itu. Dia tak mau dianggap gila karena berbicara sendiri.

“Aku bisa mendengarnya loh,” ujarnya sambil tersenyum mengejek.

Shit!” Umpat Jonghyun.

“Eh, gwenchana?” Hyerim yang tadinya hanya focus pada es krimnya kini menatap Jonghyun heran.

“Ah, gwenchana.” Balas Jonghyun agak malu.

“Hihi, Jjong! Kenalkan aku pada yeoja ini ya? Dia cantik,” ujar Kibum. Jonghyun menoleh heran.

“Pabo! Kau itu kan roh. Memangnya bisa?” Tanya Jonghyun setengah berbisik.

“Ah, kau kan tinggal menyuruhnya bersalaman denganku. Lagipula yang bisa melihatku kan hanya kau,” balas Kibum. Jonghyun mendengus kesal, saudaranya itu banyak maunya!

“Eh, mana bukuku Jonghyun-sshi?” Tanya Hyerim di sela-sela makan es krimnya.

“Engh, sebelumnya aku mau berbicara padamu. Bagaimana kalau aku berkata kalau sebenarnya kita bukan berdua,” ujar Jonghyun.

“Maksudmu?” Tanya Hyerim tak mengerti.

“Yah, kau tahu, engh- Begini! Kau percaya yang namanya engh- roh?” Tanya Jonghyun sedikit ragu.

“Entahlah, kenapa kau bertanya bergitu?” Hyerim menatap Jonghyun makin tak mengerti.

“Yah, bagaimana kalau aku berkata disebelahku ada seseorang atau lebih tepatnya roh yang hanya bisa dilihat olehku?” Tanya Jonghyun lagi.

“Eh? Maksudmu disebelahmu ada hantu?” Tanya Hyerim.

“Bukan!! Tampan begini dibilang hantu!!” Teriak Kibum. Jonghyun menutup mulut Kibum.

“Kau kan memang hantu, memang apa bedanya roh dengan hantu?” Ujar Jonghyun.

“Roh itu tampan seperti aku. Sedangkan hantu itu menakutkan! Aku saja takut melihatnya!” Balas Kibum dengan ekspresi aneh.

“Haha! Dasar!” Ujar Jonghyun. Hyerim yang melihatnya langsung ternganga heran dan penasaran.

“Jonghyun, kau berbicara dengan hantu? Apa kau mempunyai ilmu aneh? Atau indera keenam? Atau dari keturunan?” Hyerim menanyainya dengan banyak pertanyaan.

“Eh, okelah, perkenalkan, dia saudaraku Kim Kibum. Kibum ini Hyerim temanku,” ujar Jonghyun sambil menunjuk Kibum pada Hyerim.

“Ayo salaman!” Seru Jonghyun.

“Kau tak bercanda kan?” Tanya Hyerim ragu.

“Tentu saja. walau aku ragu kau bisa menjabat tangannya atau tidak,” ujar Jonghyun. Kibum sudah mengulurkan tangannya pada Hyerim. Sedangkan Hyerim masih ragu-ragu untuk mengulurkan tangannya.

“Ayolah Hyerim-ah! Jangan membuatnya menghantuimu loh!” Canda Jonghyun. Hyerim pun akhirnya mengulurkan tangannya ke depan, entah benar posisinya dengan tangan Kibum. Dia benar-benar aneh, kenapa dia malah percaya kalau Jonghyun benar-benar bisa berbicara bahkan melihat roh atau semacam itu.

“Ke kiri sedikit Hyerim-ah!” Perintah Jonghyun. Hyerim pun menurut.

“Sekarang genggam tangan Kibum, dia sudah menggemgammu loh!” Ujar Jonghyun.

“Eh?” Hyerim kali ini merasakan aura aneh yang merambat di sekujur tubuhnya saat Jonghyun berkata kalau saudaranya sudah menggenggam tangannya.

“Annyeong, Song Hyerim imnida.” Ucap Hyerim.

“Annyeong, Kim Kibum imnida.” Balas Kibum yang tak akan terdengar Hyerim.

“Kibum bilang, annyeong, Kim Kibum imnida,” ujar Jonghyun pada Hyerim. Hyerim pun memutuskan untuk melepas ‘genggaman’nya dari saudara Jonghyun yang bernama Kibum itu. Dia menatap Jonghyun seolah meminta penjelasan tentang hal ini, Jonghyun mengela nafas dan menceritakan semuanya.

***

“Yah, kalau soal komik fullmetal alchemist. Aku juga pernah membacanya, hanya saja tidak mungkin ka nada orang seperti Edward atau Alphonse? Lagipula kasus sa-Kibum kan berbeda dengan cerita dari fullmetal,” gumam Hyerim.

“Yah, lalu apa yang kau ketahui tentang roh atau yang semacam itu?” Tanya Jonghyun. Dia sedikit kesal mendapati yang dibicarakan dengan yeoja dihadapannya yang dia kagumi adalah soal saudaranya sendiri, bukan dirinya.

“Ah! Aku pernah lihat film. Katanya kalau roh bergentayangan berarti mereka masih mempunyai urusan di bumi ini, jadi mereka tak bisa pergi ke dunia sana. Ehm, tapi itu mungkin. Kau bisa bertanya pada Kibum, apa dia masih punya urusan di dunia ini?” Ungkap Hyerim. Jonghyun menoleh pada Kibum.

“Yeah, entahlah. Aku tak pernah tahu, aku juga tak merasakan kalau aku mempunyai sesuatu yang mengganjal.” Ujar Kibum.

“Kibum bilang, entahlah. Aku tak pernah tahu, aku juga tak merasakan kalau aku mempunyai sesuatu yang mengganjal.” Ujar Jonghyun membertitahu Hyerim.

“Atau mungkin orangtua kalian yang tak merelakan kepergian Kibum,” pikir Hyerim.

“Yeah, mungkin. Gomawoyo Hyerim-ah! Kau sudah percaya! Bukunya ada di kasir. Aku duluan! Annyeong!” Seru Jonghyun sambil bergegas lari.

“Ya!! JONGHYUN!!” Terdengar samar-samar teriakan Hyerim dari dalam kedai es krim.

***

“Ah~ capek!” Keluh Jonghyun. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Diikuti oleh Kibum.

“Umma mana? Padahal aku sudah hampir dua minggu tinggal disini, tapi Umma dan Appa tak pernah kulihat,” keluh Kibum.

“Oh, Appa di Prancis. Sedangkan Umma, kau tahu, dia selalu pergi saat aku masih tidur dan kembali saat aku sudah tidur. Tapi katanya tadi Umma mau menjemput Appa di bandara, Appa pulang!” Seru Jonghyun. Kibum tersenyum tipis. Dia menyadari dia tak akan bisa memeluk Umma dan Appa walaupun dia sesenang apapun. Umma dan Appanya mungkin tak ingat padanya. Apalagi ditambah keberadaannya dulu yang dirahasiakan oleh mereka. Kibum ingin bisa mencabik-cabik orangtuanya, dia sedikit menyesal kenapa dia yang mati saat itu? Kenapa bukan Jonghyun? Lalu kenapa dia dirahasiakan dari saudara kembarnya sendiri?

“Ya! Gwenchana?” Tanya Jonghyun.

“Ah, ne.” Jawab Kibum.

“Aku akan bertanya soal hal ini pada Umma dan Appa,” ujar Jonghyun.

“Heh?”

“Ya, soal kau. Aku tak mau terus bertanya. Aku ingin kepastian Kibum!” Seru Jonghyun. Kibum menghela nafas.

“Jangan lakukan itu Jjong,” sergah Kibum.

“Apa kau ingin terus seperti ini? Bergentayangan tak jelas?” Ujar Jonghyun. Kibum menunduk.

“Apa kau tak suka aku ada disini?” Tanya Kibum dengan suara yang tercekat.

“A-aku, bukan!! Tentu saja tidak!! Aku suka kau disini! Hanya saja masih aneh bagiku Kibum,” jawab Jonghyun tergagap.

“Haha, sudahlah.” Ujar Kibum. Terdengar pasrah.

“Ya! Kau jangan lesu seperti itu dong!! Umma dan Appa pulang sekarang!! Ayo kita sambut!” Seru Jonghyun. Kibum hanya tersenyum tipis. Dia tak akan bisa seperti Jonghyun, menyambut orangtuanya dengan senyuman yang merekah. Dia tak akan bisa!

“Aku tak ikut.” Ucap Kibum dengan suara yang sedikit tercekat.

“Eh, wae? Bukankah kau bilang rindu pada mereka?” Tanya Jonghyun heran. Kibum menghela nafas pelan. Menatap mata saudara kembarnya itu dengan tatapan lesu.

“Aku tak ikut.” Ulangnya. Jonghyun duduk disamping Kibum. Menepuk bahunya pelan.

“Jangan seperti ini pabo! Mana Kibum yang selalu menyebalkan itu? Mana Kibum yang auranya seperti Mak Lampir itu?” Ujar Jonghyun mencoba membangkitkan semangat Kibum. Kibum mendengus pelan, menyadari dirinya di dunia ini hanya lah semu. Tak lebih dari hanya sekedar roh. Dia teringat pernyataan yang dikatakan Hyerim waktu di kedai es krim. ‘Mungkin orangtua kalian tak merelakan kepergian Kibum’. Tunggu! Apabila orangtuanya merelakan dia pergi, apa yang akan terjadi?

“Ya! Kibum-ya! Kau kenapa sih?” Seru Jonghyun.

“Ah, aniyo. Aku mau keluar dulu sebentar.” Ujar Kibum. Jonghyun menahan tangan Kibum yang sudah hendak beranjak pergi.

“Andwae!! Kau disini!!” Seru Jonghyun. Kibum mencoba menepis tangan Jonghyun. Sayangnya sepertinya kekuatan manusia lebih kuat saat itu, dia pun menyerah dan mengikuti apa mau Jonghyun.

“Kita kebawah! Kajja!” Seru Jonghyun masih menggenggam tangan Kibum. Kibum dengan pasrah mengikuti Jonghyun ke bawah, menemui Umma dan Appanya yang dulu mencoba menghidupkannya kembali itu.

“Umma! Appa!” Seru Jonghyun ketika melihat Umma dan Appanya sedang asyik menonton tv.

“Apa nak?” Tanya Ummanya.

“Aku ingin bertanya. Ada sesuatu hal yang mengganjal saat-saat ini,” ujar Jonghyun.

“Eh, wae? Mimpi buruk? Soal hantu? Atau pembunuhan yang sadis?” Tanya Appanya ikut penasaran.

“Ne, soal Mak Lampir yang menyeramkan. Bukanlah! Aku mimpi aku mempunyai saudara, lebih tepatnya saudara kembar.” Terang Jonghyun. Umma dan Appanya diam seketika. Saling menoleh satu sama lain.

“Itu kan hanya mimpi,” timpal Ummanya sedikit dengan nada bocara yang gugup.

“Ne, tapi itu berulang-ulang! Mimpi itu bahkan seperti nyata! Bahkan aku tahu siapa namanya!” Sanggah Jonghyun.

“Tapi Jjong, itu kan hanya mimpi. Mungkin kau ingin mempunyai seorang adik?” Timpal Appanya.

“Namanya Kim Kibum,” ujar Jonghyun pelan, namun bisa cukup membuat jantung orangtuanya berhenti seketika.

“Ki-K-Kibum?” Ucap Ummanya. Jonghyun mengangguk.

“Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kalian malah berbisik-bisik? Memangnya aku benar-benar mempunyai saudara yang bernama Kibum?” Tanya Jonghyun. Umma dan Appanya menghela nafas. Sedikit menyandarkan tubuhnya ke sofa yang daritadi mereka duduki.

“Sudah saatnya membicarakan hal ini. Ne, kau benar-benar mempunyai saudara,” ucap Umma.

“Lebih tepatnya saudara kembar,” lanjutnya. Jonghyun terbelalak. Asalnya dia cukup yakin kalau Umma dan Appanya berkata kalau dia adalah anak satu-satunya, tapi ternyata tidak. Kibum memang nyata. Dia tidak berbohong. Dia memang pernah merasakan kehidupan ini barang sekejap saja.

“M-mwo?” Jonghyun jadi teringat saat pertama kali Kibum berkata kalau dia adalah saudaranya kembarnya Jonghyun. Dia juga jadi gagu saat itu.

“Ne, Umma merahasiakannya, karena Umma dan Appa tak ingin terus sedih karena terus melihat Kibum,” tutur Ummanya.

“Maksud Umma?” Tanya Jonghyun.

“Tapi Umma saat ini telah merelakannya, Umma sebenarnya ingin meminta maaf pada Kibum. Kibum itu anak yang baik, dia sangat dekat denganmu. Umma jadi ingat saat dulu kau dan Kibum terakhir bermain, kalian berdua begitu lucu.” Ungkap Ummanya sambil meneteskan airmatanya. Appa mengelus pundak Ummanya dan terus berkata ‘uljima’ pada wanita pendamping hidupnya itu.

“Tuh kan, sudah kubilang, Umma dan Appa tak melupakanmu kan?” Ujar Jonghyun sambil berbalik. Dia terkejut saat mendapati Kibum tak ada!! Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari sosok Kibum yang sudah dua minggu mendarat di rumahnya. ‘Apa dia ada di kamar?’

“Kau kenapa Jjong?” Tanya Appanya. Jonghyun menggeleng pelan, kemudian bergegas kembali ke kamarnya. Berharap si pemilik aura Mak Lampir itu berada di kamarnya.

“Ki-,” ucapan Jonghyun terpotong saat mendapati Kibum juga tak ada di kamarnya. Dia segera meraih ponselnya. Menekan speed dial di ponselnya.

“Yoboseyo?” Sapa seseorang disana.

“Hyerim-ah! Kau tahu? Kibum tak ada!!” Teriak Jonghyun frustasi.

“Eh, jeongmal? Bukankah tadi siang dia masih bersamamu?” Tanya Hyerim.

“Ne, tapi tadi dia tiba-tiba saja menghilang setelah aku berbicara pada Umma dan Appa!” Jawab Jonghyun.

“Mwo? Apa Ummamu berkata kalau dia merelakan Kibum?” Tanya Hyerim sedikit cemas. Jonghyun sedikit memutar pikirannya, mengingat-ingat apa yang diucapkan Hyerim.

“Ah! Ne! dia berkata seperti itu! Memangnya kenapa?” Tanya Jonghyun yang semakin cemas.

“Uh, aigoo! Jjong! Kau membuatnya pergi dengan damai, ternyata dia masih berada dia dunia ini selama sepuluh tahun karena belum mendengar ibunya mengatakan hal tadi!”

“M-mwo? Ja-jadi Kibum, dia sudah pergi?” Tanya Jonghyun tak percaya. Dia merebahkan badannya di tempat tidurnya, tanpa mempedulikan sahuta Hyerim dari seberang sana. Jonghyun menutup matanya, berusaha menahan air yang mengalir dari matanya. Berusaha agar tak diledek oleh si pemilik aura Mak Lampir. Berusaha menahan perasaannya.

“Kau curang Kibum!!” Serunya sambil terisak.

“Kau bilang akan selalu menghantuiku bodoh! Kau itu roh terbodoh di dunia!” Umpatnya masih sambil menutup matanya dengan tangannya.

“Bahkan kau tak mengucapkan salam perpisahan padaku! Sialan kau Kibum!!” Jonghyun masih terisak. Bahkan air mata yang sudah dia tahan itu malah semakin membludak dan membuat tangisnya kembali pecah. Kali ini, Jonghyun bahkan tak pernah menangis sebelumnya. Mungkin ini adalah air mata dari kesedihan masa lalu. Yah, manusia pasti tak mungkin selalu fine kan?

***

Empat orang remaja laki-laki dan seorang remaja perempuan sedang duduk bersimpuh di samping gundukan tanah. Mereka menatap salah seorang dari temannya dengan haru. Teman mereka yang menangis sesenggukan di hadapan gundukan tanah itu. Kim Jonghyun.

“Aku tak percaya. Aku bahkan belum mengenalnya tapi rasanya seperti ditinggalkan oleh kekasihku,” ujar Minho.

“Ne, rasanya aku dan Kibum Hyung ini seperti pernah dekat sekali.” Tutur Taemin. Sementara Jinki hanya diam sambil memandang gundukan tanah yang berbatu nisan dengan tulisan Kim Kibum itu. Hyerim menepuk pundak Jonghyun pelan. Berharap remaja laki-laki itu bisa melupakan kesedihan yang dialaminya saat ini.

“Yeah, sudah. Ayo Jjong! Kita pergi!” Seru Jinki. Jonghyun masih terduduk di depan tempat peristirahatan saudaranya itu.

“Ne, ayo Hyung!”Seru Taemin pula. Jonghyun seperti tak menghiraukan sahutan temannya itu. Dia masih memperhatikan gundukan tanah di depannya dengan tatapan nanar.

“Jonghyun-ah! Kibum tak akan senang kalau kau cengeng seperti ini,” ujar Hyerim. Jonghyun pun akhirnya bangkit. Dia merangkul Hyerim erat. Mendekapnya.

“Biarkan seperti ini dulu,” ujar Jonghyun. Hyerim hanya diam saja dan berharap suara gelegar jantungnya tak terdengar oleh Jonghyun.

“Saranghaeyo,” bisik Jonghyun.

“Eh?” Hyerim tercekat mendengar pernyataan Jonghyun itu.

“Kau tak elite Jjong! Masa nembak di kuburan sih!” Seru Minho. Mereka pun tertawa. Jonghyun menatap langit. Dia yakin, suatu saat dia akan bisa menemui saudaranya itu. Yah, walaupun dia masih ingin hidup di dunia ini.

I’m Another status : END

Aigoo— kenapa endingnya kayak gini??

Uh, mianhae kalo gak sesuai sama yang readers inginkan ya?? #bow

Aku cuma bisa bikin series sampe 2, haha… mianhae again #bow

Jangan lupa SARAN!!!

See You on Next Fanfic Readers!!!

Annyeong~!! Chu~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s