From Me

Title : From Me

Author : ilmacuccha

Cast : SHINee Kim Jonghyun

Genre : Tragedy, Thiller, Angst

Rate : PG14

Length : Drabble

Poster and Thank’s To : Rara Unn a.k.a cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

Disclaimer : Plotnya punyaku!! Jonghyun juga!!

Be a Good Readers Please …

Not For Silent Readers!!

Normal P.O.V

Seorang remaja berjalan dengan santainya menuju sebuah rumah yang memang rumahnya. Langit terlihat sangat gelap dan lampu-lampu jalan sudah dinyalakan beberapa jam yang lalu. Banyak orang mungkin akan berpikir, pulang ke rumah pukul dua pagi bukan hal yang bagus bukan? Apalagi untuk seorang remaja.

Remaja itu masih berjalan dengan santai menuju rumahnya. Dia bahkan sudah berniat akan segera merebahkan diri di tempat tidurnya jika sudah menapakkan kaki di rumah. Dia membuka pintu rumah dan ternyata mendapati orangtuanya sedang duduk di ruang tamu, seperti menunggu kehadirannya. Sang ayah terlihat senang bahkan dia tersenyum menyeringai sambil menepuk-nepuk stik baseball yang ada ditangannya. Sementara sang ibu hanya menatap nanar pada anak itu.

“Darimana saja kau?” Tanya si Ayah.

“Main,” jawab singkat si anak itu. Tanpa mempedulikan tatapan benci si Ayah. Dia malah melenggang melewati si Ayah. Namun sebuah pukulan mendarat di punggungnya dan membuat dia tersungkur.

BUGH

Si ibu langsung menghampiri anaknya dengan perasaan khawatir. Sementara si ayah masih dengan santainya tersenyum melihat anaknya yang tersungkur itu.

“Kau! Sudah kubilang! Jangan main terus!! Bagaimana kata orang jika pewaris perusahaan keluarga Kim mempunyai kelakuan seperti ini!!” Teriak si ayah.

“Huh, bukannya kau sudah bangkrut?” Tanya si anak. Ayahnya menatap marah si anak dan tanpa basa-basi dia langsung kembali melayangkan pukulan dengan stik baseballnya.

“Appa sudahlah! Biarkan Jonghyun istirahat dulu!” Teriak Ibunya histeris sambil mengusap-usap punggung anaknya yang bernama Jonghyun itu.

“Ini semua terjadi karena dia kau terlalu memanjakannya tahu!!” Bentak Ayahnya garang. Jonghyun bangkit, dan menatap mata Ayahnya dengan penuh amarah.

“Kau! Tua Bangka busuk!! Jangan pernah membentak Umma!!” Seru Jonghyun dengan nafas yang naik-turun. Dia sudah cukup bosan setiap mendengar ayahnya membentak ibunya. Dan ini selalu terjadi setiap malam sejak 5 tahun lalu. Lebih tepatnya sejak ayah asli Jonghyun meninggal.

“Kau!! Anak kecil! Tak tahu apa-apa!! Kerjaanmu hanya main! Tak pernah mementingkan perusahaan!!” Bentak si Ayah.

“Cih! Itu bukan perusahaanku bodoh! Lebih baik kau saja yang menanganinya! Jangan libatkan aku dan Umma!” Seru Jonghyun sudah naik darah.

“Huh, kau jangan lupa. Ayahmu itu berutang padaku, dan yah dia menjaminkan hutangnya itu dengan perusahaan dan kalian, lagipula kalu aku ingin jujur kau itu hanya anak tiri atau mungkin anak angkat, jadi sebenarnya aku tak harus peduli padamu,” jawabnya sambil menyeringai lebar. Jonghyun mengerang pelan.

“Sudah! Kali ini hanya segini! Lain kali tak akan kuberi ampun lagi!”Seru Ayahnya sambil melempar stik baseball yang sedari tadi dipegangnya dan langsung masuk ke kamarnya.

“Bodoh! Tak aka nada lagi lain kali.” Umpat Jonghyun pelan sambil menyeringai.

***

“Hmm, barang yang bagus,” puji Jonghyun sambil mengelus-elus sebuah benda tipis nan tajam yang kini sedang dipegangnya.

“Yah, benar-benar barang yang sangat bagus,” ulangnya. Dia pun berjalan keluar dari kamarnya sambil menenteng benda tipi situ di tangannya.

“Annyeong Appa,” ucap Jonghyun saat baru saja memasuki kamar ayahnya. Terlihat seorang pria setengah baya tengah tertidur pulas di tempat tidurnya.

“Umma tak ada? Baguslah,” ujarnya. Jonghyun kemudian duduk di samping tempat tidur ayahnya. Mengusap wajah ayahnya pelan dengan sedikit amarah. Mengeluarkan selotip dari saku celananya dan menempelkannya di mulut dan kaki ayahnya yang masih tertidur pulas itu.

“Tenang, hanya supaya kau diam,” ujar Jonghyun. Kali ini dia pun mengeluarkan benda yang tadi dipujinya sampai dua kali. Sekali lagi memandang benda tipis tajam yang dinamakan silet itu, dan menyeringai tak jelas.

“Hmm,” gumamnya seperti sedang berpikir. Jonghyun menjentikkan jarinya, seolah pertanda dia mendapatkan apa yang tadi dipikirkannya. Kemudian tanpa basa-basi Jonghyun pun langsung menggores leher ayahnya dengan silet yang dia pegang. Ayahnya tiba-tiba bangun dan menggeliat pelan. Mendapati kakinya yang sedang diselotip, ditambah rasa sakit yang menjalar di tubuhnya akibat sayatan di leher Jonghyun membuatnya tak berdaya menggerakkan tangannya.

“Hadiah special dariku. Sejak lima tahun yang lalu,” ujar Jonghyun. Kali ini Jonghyun beralih ke lengan ayahnya. Dia menyayat-nyayat pergelangan tangan ayahnya masih dengan benda yang sama.

“A…ku, be…n…ci  A…pp…a,” ejanya ketika menggoreskan kalimat itu di tangan ayahnya masih dengan menggunakan silet itu. Si ayah hanya bisa menggeliat mencoba menahan rasa sakit yang dideritanya kali ini.

“Kali ini giliran yang kanan!” Seru Jonghyun sedikit girang. Dia pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan di lengan ayahnya yang kiri.

“Selesai! Err- kau masih hidup?” Tanya Jonghyun pada ayahnya. Melihat si ayah yang hanya menggeliat dia malah merobek baju ayahnya.

“Ah, aku menyesal tak membawa yang lebih tajam dan besar, cutter misalnya,” keluh Jonghyun. Dengan tanpa perasaan dia hanya menggores-gores dada ayahnya.

“Mmmh-mmhh,” Teriak parau ayahnya.

“Uh, wae?” Tanya Jonghyun sambil menghentikan ‘aktivitasnya’. Ayahnya hanya menggeliat dan hanya bisa berkata ‘mmh’, dan yang pasti Jonghyun tahu kalau ayahnya mungkin akan mati beberapa menit lagi.

“Apa kau bertanya kenapa aku melakukan ini? Kau kan hanya ayah tiriku atau mungkin hanya ayah angkatku, jadi aku sebenarnya tak harus peduli padamu,” jawab Jonghyun mengikuti ucapan ayahnya yang diucapkan saat ayahnya tadi memukulnya dengan stik baseball. Dia merasa senang bisa mengucapkan hal yang sama dengan apa yang ayahnya katakan, apalagi di depan ayahnya yang sedang sekarat ini. Jonghyun pun memutuskan untuk melanjutkan kembali ‘aktivitas’nya sampai dia menyadari kalau dada ayahnya tak naik-turun lagi.

“Ya! Ayah! Gwenchana?” Tanya Jonghyun. Dia menepuk dahinya sendiri, dan tertawa. Mana mungkin ayahnya baik-baik saja, pikirnya. Dia menengok ke belakang melihat jam yang sedang berdetik dan menjadi saksi bisu dalam apa yang ia lakukan malam ini.

“Aigoo~ sudah jam enam!” Seru Jonghyun.

“Jonghyun kau dimana? Mau sarapan bareng Umma?” Tanya Ummanya dari luar.

“Di kamar Appa!” Jawab Jonghyun setengah berteriak.

“Memangnya apa yang sedang kau lakukan nak?” Tanya ibunya sambil terdengar seperti sedang melangkah menuju kamar dimana Jonghyun berada.

Ceklek..

Suara kenop pintu itu terdengar jelas di ruangan Appanya Jonghyun yang sunyi.

“Apa yang kau la- KYAAAAAAA!!!!” Ibunya berteriak histeris. Dan langsung terduduk di depan pintu sambil menutup mulutnya yang terlalu kaget melihat apa yang ada dihadapannya.

“KEJUTAN!!” Seru Jonghyun girang sambil menunjuk ayahnya yang tak berdaya dengan darah yang membanjiri tempat tidurnya.

“O-omo, Jj-Jonghyun, ap-pa yang k-kau la-ku-kkan nak?”

From Me status : END

Aigoo– FF apa ini?? #melukJjong #plak

Haha, dasar otak sayanya lagi masa autis banget! jadi bikin FF gaje kayak gini,

fiuuhhh~

semoga kalian suka!!

Please Leave a Comment

See You on Next Fanfiction!!

Advertisements

2 comments on “From Me

  1. Pingback: It’s Not Fun « Hello! Lucifer's Station

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s