It’s Not Fun

Title : It’s Not Fun!

Author : ilmacuccha (@mail_sin96it)

Cast : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Lee Jinki

Support Cast : SNSD Kim Taeyeon, SHINee Kim Kibum a.k.a Key

Genre : Family, Thiller, Angst, Tragedy

Rate : PG14

Length : Oneshoot

Poster and Thanks To : Fai 신이 Kevin (@TFai_K19)

Disclaimer : Plotnya PUNYAKU!! Dan juga dengan JONGHYUN!! #PLAK #DHUARR

NB : Ini sekuel dari FF aku sebelumnya yang judulnya FROM ME

Be a Good Readers Please ….

Not For Silent Readers!!

Baca = HARUS KOMEN!!

Normal P.O.V

Seorang pria berjas putih berjalan menyusuri koridor sebuah bangunan, disertai beberapa orang yang mengenakan pakaian yang sama yang beberapa kali membuka salah satu pintu yang ada di koridor itu seolah-olah memperkenalkan pria tadi dengan bangunan itu. Pria itu terkadang mengangguk. Ataupun tersenyum miris. Sampai akhirnya mereka tiba di pintu tarkhir koridor tersebut. Beberapa orang yang berada di belakang si pria itu seperti biasa membukakan pintu ruangan itu kepada pria berjas itu. Pria itu menengok dan mendapati seorang pria dan wanita muda sedang berada dalam ruangan itu. 

“Jjongie, ayo bicara, aku ini Noona-mu kan? Masa ka-“ Ucapan wanita muda itu terhenti saat menyadari bukan hanya mereka bertiga yang ada di ruangan itu.

“Annyeonghaseyo,” sapa pria yang tadi duduk bersama wanita muda itu sambil membungkukkan badan.

“Ah, ne, annyeonghaseyo,” balas pria berjas tadi ramah.

“Apa Anda dokter baru itu? Saya Kim Kibum, psikiater,” ujar pria yang memperkenalkan diri sebagai Kibum itu. Pria berjas tadi mengangguk.

“Ne, saya Lee Jinki. Siapa nama pasien ini? Apa dia mengalami sesuatu yang parah?” Tanya pria berjas bernama Jinki itu. Kibum menoleh sebentar pada pasien yang kali ini sedang sedikit berinteraksi dengan wanita muda tadi.

“Namanya Kim Jonghyun. Berumur 17 tahun. Mengalami guncangan mental disebabkan perlakuan ayahnya yang kasar sejak dia berumur 12 tahun, sampai akhirnya dia membunuh ayah tirinya minggu lalu.” Jelas Kibum. Jinki kembali mengangguk.

“Apa dia keluarganya?” Tanya Jinki sambil menunjuk wanita muda yang kini tengah berinteraksi dengan pasien yang mempunyai nama Kim Jonghyun itu.

“Ne, dia kakak Jonghyun. Baru saja kembali dari Kanada karena mendengar berita tentang adiknya,” jawab Kibum. Jinki menyimpan tangannya di dagunya(?) seolah berpikir. Dia kemudian berjalan mendekati Jonghyun.

“Apa ibunya tahu?” Tanya Jinki sambil menatap remaja berusia 17 tahun itu.

“Bahkan ibunya yang mengirim Jonghyun ke sini,” balas Kibum.

“Sekarang dimana ibunya?” Untuk kesekian kalinya Jinki bertanya tentang pasien yang bernama Kim Jonghyun itu.

“Dia dirumah, aku sekarang bersamanya,” timpal wanita muda itu. Jinki menoleh.

“Eh, joesonghamnida Agasshi, siapa nama Anda?” Tanya Jinki dengan sopan.

“Taeyeon, Kim Taeyeon.” Jawab wanita muda itu sedikit kikuk.

“Bagaimana keadaan ibu Anda? Apa dia masih shock?” Tanya Jinki dengan hati-hati.

“Ne, dia masih shock. Bahkan semua foto yang berhubungan dengan Jonghyun dan Appa dia singkirkan. Menyingkirkan semua benda tajam yang ada dirumah. Bahkan untuk makan pun dia akhir-akhir ini selalu pesan dari luar. Aku khawatir, apa Umma juga sedikit mengalami gangguan mental?” Tanya Taeyeon dengan nada sedikit tercekat.

“Ehm, menurut saya, itu hanya sementara saja. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, saya anjurkan agar dia dibawa ke psikiater agar dia sedikit tenang dan melupakan masalah yang dihadapinya,” tutur Jinki. Kibum mengangguk setuju.

“Tapi selama aku juga masih hidup dengan Appa, Jonghyun tak seperti ini. Apa Jonghyun bisa kembali normal?” Tanya Taeyeon.

“Mungkin. Tapi jika dia harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu,” jawab Kibum. Taeyeon mengangguk. Dia menatap nanar adiknya yang kini hanya diam dengan tatapan kosong.

“Agasshi, waktu berkunjung sudah habis. Anda bisa datang lagi besok jika ingin menjenguk adik anda,” ujar Kibum dengan sopan. Taeyon mengangguk, dia memandang Jonghyun. Menghampirinya dan mendaratkan kecupan di kening adiknya itu.

“Annyeong Jjongie, aku besok datang lagi.” Ucapnya. Jonghyun tak berkata apa-apa, hanya diam.

“Mari aku antar Agasshi,” ujar Kibum. Taeyeon pun keluar mengikuti Kibum, diikuti oleh Jinki dan staff Rumah Sakit Jiwa lainnya.

“Aku tak senang,” lirih Jonghyun setelah mereka keluar dari ruangannya.

***

Jinki berjalan dengan santai. Sambil tersenyum pada semua orang yang dilewatinya. Beberapa pasien tersenyum ke arahnya dan melambaikan tangannya. Jinki membalasnya.

“A-annyeong Ahjusshi,” sapa seorang wanita paruh baya sambil melambaikan tangannya dengan gaya seperti anak kecil.

“Annyeong!” Balas Jinki. Kemudian menghampiri wanita paruh baya itu.

“Bagaimana keadaan Anda?” Tanya Jinki ramah.

“Aku sehat! Tapi anakku tidak, dia sedikit flu,” jawab wanita paruh baya itu sambil menunjuk bayi atau lebih tepatnya boneka bayi yang ada di pangkuannya. Jinki tersenyum.

“Cepat sehat ya!” Seru Jinki sambil berdiri dan meninggalkan wanita paruh baya itu. Jinki kembali berjalan menyusuri koridor rumah sakit itu. Dan akhirnya kembali berhenti di ruangan yang sama seperti kemarin. Jinki mengetuk pintunya pelan dan membuka pintu itu dengan gerakan yang pelan pula.

“Annyeong,” sapa Jinki ramah saat mendapati pasien yang kemarin terakhir di kunjunginya. Kim Jonghyun. Namun Jonghyun hanya menoleh dan menatap Jinki dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Aku boleh duduk disini?” Tanya Jinki masih ramah. Jonghyun kembali tak menjawab. Dan Jinki pun duduk disamping tempat tidur Jonghyun.

“Bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanya Jinki yang masih tak dijawab oleh Jonghyun.

“Uhm, kalau begitu. Bagaimana perasaanmu hari ini?” Tanya Jinki sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Jonghyun menoleh, namun kembali membuang mukanya.

“Hmm?” Ujar Jinki seolah menunggu jawaban dari Jonghyun.

“Aku tidak senang,” jawab Jonghyun pelan.

“Mwo?” Tanya Jinki yang tak jelas mendengar jawaban dari Jonghyun.

“Aku tidak senang, engh-“

“Hyung saja. Lagipula aku masih belum terlalu tua,” ujar Jinki seolah mengetahui apa yang ingin Jonghyun katakan.

“H-Hyung,” ujar Jonghyun pelan. Jinki mengangguk.

“Jadi kau tidak senang kenapa?” Tanya Jinki. Jonghyun terlihat sedang menerawang.

“Umma.” Jawab Jonghyun datar. Jinki mengerutkan dahinya.

“Kenapa dengan Umma-mu?” Lanjut Jinki.

“Benci.” Jawab Jonghyun dingin.

“Uhm, ap-“

“Annyeong Jjongie!!” Seru seorang wanita dengan suara melengkingnya. Jinki menoleh. Kakak Kim Jonghyun. Jonghyun tersenyum sedikit.

“Bagaimana keadaanmu hari ini saengie?” Tanya Taeyeon dengan ceria.

“Buruk,” jawab Jonghyun sambil sedikit tersenyum.

“Ah! Aku membawakanmu ini!! Tada~~!” Seru Taeyeon saat menunjukkan kotak bekal yang dibawanya sejak tadi. Jonghyun mengerutkan dahinya.

“Ini kue yang aku buat sendiri!” Serunya girang. Jinki yang merasa agak canggung dengan suasana seperti ini langsung meminta permisi kepada Taeyeon. Jinki keluar dan membiarkan mereka –Taeyeon dan Jonghyun—bercanda, dan melepas rasa rindu mungkin. Baru saja Jinki hendak melangkahkan kakinya menjauhi ruangan itu. Terdengar suara teriakan dari Taeyeon. Jinki bergegas masuk dan mendapati Jonghyun tengah memegang pisau kecil yang dibawa Taeyeon untuk memotong kue.

“Ya! Ya! Jonghyun-sshi! Simpan itu!” Suruh Jinki dengan sedikit panik.

“Sudah kubilang aku tidak senang!” Teriak Jonghyun. Dia pun turun dari tempat tidurnya dengan buas dan mendekati Jinki dengan cepat. Jinki dengan sigap mencari-cari sesuatu yang bisa menahan amarah Jonghyun kali ini. Dia menyesal tak membawa jarum suntik kali ini.

BUGH

Jinki memukul Jonghyun dengan sapu yang terdapat di ruangan Jonghyun sampai sapu itu patah. Jonghyun terhuyung, dengan sigap Jinki dan Taeyeon berjalan keluar dan menghubungi para staff lainnya untuk menenangkan Jonghyun.

“Pusing,” lirih Jonghyun.

***

“Jadi sebenarnya apa yang terjadi pada Jonghyun?” Tanya Taeyeon. Kali ini dia sedang berkonsultasi dengan psikiater ahli di rumah sakit yang sekarang sedang didiami oleh Jonghyun, Kim Kibum. Sambil berjalan-jalan mengitari koridor rumah sakit atau sedikit lebih mengenal tempat  itu.

“Ehm, menurutku dia tidak-“

“Gila maksudmu?” Potong Taeyeon. Kibum mengangguk.

“Jadi?” Tanya Taeyeon lagi.

“Yah, menurutku adikmu, Kim Jonghyun. Dia hanya mengalami depresi yang berat diakibatkan oleh trauma masa lalu dan trauma pembunuhan itu,” tutur Kibum.

“Jadi maksudmu, Jonghyun tak gila dan dia bisa kembali normal?” Tanya Taeyeon.

“Ne, hanya saja butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkan kembali kepercayaan dirinya dan menghilangkan trauma masa lalunya, walaupun mungkin tak bisa begitu saja menghilangkan trauma yang sudah bertahun-tahun dialaminya,” jawab Kibum. Taeyeon mengangguk.

“Seharusnya aku membawanya ke London,” lirih Taeyeon. Kibum menoleh.

“Itu bukan salah Anda, Nona,” timpal Kibum. Taeyeon hanya menunduk. Dia hanya bisa pasrah mendapati adiknya sedang seperti ini. Dia tak menyalahkan Jonghyun yang sudah membunuh Appanya, dia menyadari ada sedikit rasa senang mengetahui Appanya sudah mati. Hanya saja, dia selalu menyesal kenapa dia tak membawa serta Jonghyun dan Umma-nya ke London?

“Bagaimana keadaan Jonghyun sekarang? Yah, kau tahu tadi dia sedikit mengamuk,” ujar Taeyeon.

“Dia baik-baik saja. Hanya mungkin kembali sedikit mengingat apa yang pernah dialaminya di masa lalu,” jawab Kibum.

“Yah, selamatkan dia. Aku sangat menyayanginya,” ucap Taeyeon sedikit  bergetar.

“Tentu saja, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan jiwa adik Anda, Nona,”

***

Jinki kembali berjalan riang di koridor rumah sakit itu. Dia tetap tersenyum dan kembali berjalan menuju ruangan favoritnya akhir-akhir ini. Ruangan dimana Jonghyun berada. Dia mengerti, mungkin peristiwa kemarin saat Jonghyun benar-benar mengamuk akan terulang kembali. Setidaknya Jonghyun tidak gila, dia tahu itu, dia hanya butuh motivasi agar dia bisa bangkit memulihkan kepercayaan dirinya, seperti yang dikatakan Kibum.

Jinki melangkah pelan menuju ruangan itu. Dia mencoba agar membuat atmosfir saat dia masuk kedalam tidak canggung. Jinki sedikit merapihkan jas putihnya dan mulai tersenyum. Kali ini dia langsung membuka pintu dan mendapati Jonghyun sedang duduk seperti biasa di tempat tidurnya.

“Annyeong,” sapa Jinki ramah.

“Bagaimana perasaanmu hari ini? Jadi lebih baik?” Lanjut Jinki. Jonghyun tak menjawab bahkan menoleh sedikit pun pada Jinki. Jinki menghela nafas. Dia kembali menyimpan dagunya diatas kedua tangannya.

“Uhm, kalau begitu bagaimana kabarmu Jonghyun-sshi?” Tanya Jinki tanpa patah semangat. Dan lagi-lagi Jonghyun dan merespon apapun yang di tanyakan oleh Jinki.

“Apa kau masih tidak senang?” Tanya Jinki lagi untuk kesekian kalinya. Jonghyun kali ini menoleh, dan menatap tajam kearah Jinki. Dia sedikit menggerakkan badannya dan membawa sesuatu yang ada dibawah bantalnya.

Sreeeettt

Tiba-tiba Jonghyun mengarahkan itu ke pipi kanan Jinki. Cairan merah pekat langsung keluar saat benda itu menyentuh permukaan kulit Jinki. Jonghyun tersenyum puas. Sedangkan Jinki kali ini berdiri dan memegang pipinya yang mulai panas dan terasa sakit.

“Da-darimana kau dapatkan benda itu Jonghyun-sshi?” Tanya Jinki masih dengan nada ramahnya. Dia merasa harus tenang disaaat seperti ini.

“Aku masih tidak senang,” ujar Jonghyun. Dia mulai bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan sempoyongan kearah Jinki. Jinki yang mencoba tenang kali ini malah ikut panik, apalagi melihat silet yang dipegang oleh Jonghyun.

“Jonghyun-sshi, tenanglah, aku kesini bukan untuk menyuntikmu,” ujar Jinki sambil mencoba tersenyum.

“Jangan menampakkan senyum menjijikkan itu lagi!!” Teriak Jonghyun sambil menyerang Jinki dengan buas. Dia memegang tangan Jinki dan mulai menyayatnya dengan cepat, menyebabkan darah langsung memuncrat saat Jonghyun menyentuhkan silet itu ke permukaan kulit Jinki.

“Argh! Berhenti Jonghyun-sshi!!!” Teriak Jinki sambil mengerang kesakitan mendapati tangannya kini tengah disayat oleh Jonghyun.

“AKU BENCI KAU!!” Teriak Jonghyun lagi. Kali ini dia menyerang pipi kiri Jinki yang masih mulus.

Sreeettt

“Argh!!!” Erang Jinki. Jonghyun yang mengunci badan Jinki dengan menindihnya membuat Jinki tak bisa apa-apa, ditambah dengan darah yang terus mengalir dari tangannya membuat tenaganya semakin lama semaki berkurang.

BRAK

Seorang wanita muda yang tak lain adalah Taeyeon mendobrak pintu ruangan Jonghyun dengan keras. Dia langsung berteriak saat mendapati Jonghyun kali ini tengah mengulang kembali apa yang dilakukannya pada ayahnya. Taeyeon mendekati Jonghyun dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Dia merampas silet yang digenggam Jonghyun dan membuat tangannya sedikit tersayat.

“Hhh, hh,” suara nafas memburu dari Jonghyun terus terdengar dari ruangan yang sunyi itu. Taeyeon berusaha melindungi dirinya dan Jinki. Dia dengan perlahan mendekati nurse bell yang ada disamping tempat tidur Jonghyun. Sialnya tiba-tiba Jonghyun langsung melompat ke atas tempat tidur dan mau tak mau Taeyeon langsung mundur.

“Jonghyun-Jonghyun, kumohon berhentilah,” ucap Taeyeon dengan sedikit memelas. Jonghyun masih jongkok di atas tempat tidurnya dengan nafas yang memburu.

“Jjongie? Kau tak ingat Noona? Apa kau ingin selalu membuat Noona gelisah? Membuat Umma dan Noona menangis?” Ujar Taeyeon. Dia toba-tiba menggoreskan silet itu diatas pergelangan tangannya sendiri.

Sreetttt

Jonghyun terlihat sedikit membelalakkan matanya. Dia bisa melihat bagaimana Taeyeon berusaha menahan kesakitan dan tangisnya.

“Apa kau tak ingat janjimu pada Noona? Janjimu sebagai seorang lelaki, Jonghyun?!” Teriak Taeyeon.

-Flashback-

“Argh!” Erang seorang anak lelaki.

“Aigoo~ mianhae Jjongie,” ucap seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua dari bocah lelaki itu.

“Gwenchana Noona, seharusnya aku yang berkata maaf pada Noona. Aku tak bisa melindungi Noona,” lirih anak lelaki itu. Anak perempuan yang tak lain adalah Taeyeon itu menggeleng pelan.

“Ani, harusnya aku yang meminta maaf, karena sebagai kakak aku tak bisa melindungimu,” ujarnya.

“Tapi Noona! Harusnya aku yang melindungimu!” Seru Jonghyun.

“Gwenchana Jonghyun, aku bisa melindungi diriku sendiri kok, hehe,” timpal Taeyeon dengan tersenyum manis.

“Sirheo!! Pokoknya aku yang akan melindungi Noona!! Aku tak akan membiarkan Noona terluka! Aku tak akan membiarkan Noona menangis! Ini adalah janjiku sebagai seorang lelaki!” Seru Jonghyun. Taeyeon menghela nafasnya sebentar.

“Huh, ne, kau memang adik kesayanganku!” Seru Taeyeon sambil mengacak rambut Jonghyun pelan.

“Aku serius Noona,” lirih Jonghyun pelan.

-End Flashback-

Tiba-tiba Jonghyun merobek seprai tempat tidurnya dan berjalan mendekati Taeyeon lalu mengikat tangan Taeyeon yang berdarah oleh kain itu.

“Jjongie,” sapa Taeyeon pelan sambil memeluk Jonghyun. Jonghyun yang sedari tadi diam langsung membalas pelukan Taeyeon.

“Mianhae Noona,” lirih Jonghyun.

“Gwenchana,” balas Taeyeon.

“Mianhae,” lirih Jonghyun lagi. Taeyeon melepas pelukannya.

“Kalau kau menyayangiku, kau harus mengikuti rehabilitasi ini sampai selesai, ara?” Perintah Taeyeon. Jonghyun mengangguk pelan. Sementara Jinki sudah berdiri dengan tenaganya.

“Hhaha, aku tahu kau remaja yang baik Jonghyun-sshi,” ujarnya sambil tersenyum.

***

Five Years Later….

Riuh suara orang-orang berkumpul menjadi satu di ruangan dimana Taeyeon berada. Kali ini dia bukan sedang berada di rumah sakit jiwa. Menemani Jonghyun rehabilitasi, dan berkonsultasi sebentar dengan Kibum ataupun Jinki. Dia kini berada di sebuah aula yang dipenuhi dengan isak tangis bahagia dari beberapa orang yang mendapati anaknya lulus perguruan tinggi dengan nilai sempurna. Disanalah Taeyeon berada. Di acara wisuda Jonghyun, adiknya. Setelah Jonghyun keluar dari rehabilitasi, dia langsung meneruskan sekolahnya, walaupun banyak orang yang menjauhinya –mungkin- karena masalah dulu. Dan kali ini Jonghyun berusia 22 tahun dan lulus kuliah jurusan kedokteran dengan nilai yang paling sempurna.

“…. Aku sungguh berterimakasih pada Noonaku tercinta, tanpa dia aku tidak mungkin berada disini, dan juga untuk Kibum dan Jinki Hyung yang telah membantuku agar aku bisa percaya diri kembali. Dan pastinya untuk Umma-ku tercinta, dia adalah wanita pertama yang paling aku cintai didunia ini sebelum Noona. ……. Aku tak tahu harus berkata apa lagi, aku sangat banyak berhutang pada orang-orang yang benar-benar telah membantuku, sekali lagi jeongmal kamsahamnida,” uajr Jonghyun mangakhiri pidato wisudanya. Dia berjalan dengan santainya dari podium menuju Taeyeon yang masih memandanginya dengan perasaan takjub. Disamping Taeyeon ada Umma-nya yang bahkan kini sudah menangis terharu oleh pidato yang disampaikan Jonghyun. Jinki dan Kibum bahkan yang paling riuh menepukkan tangannya saat pidato Jonghyun berakhir.

“Gomawo Noona,” ujar Jonghyun sambil memeluk Taeyeon yang ikut menangis haru.

“Gwenchana,” balas Taeyeon sambil sesenggukan.

“Aigoo~ uljima,” ucap Jonghyun berusaha menenangkan tangisan Taeyeon.

“Kau akan selalu menghentikan tangisanku ini kan?” Tanya Taeyeon.

“Ne. Saranghayeo Noona,” ujar Jonghyun sambil mengecup puncak kepala Taeyeon.

“Nado, dongsaeng-ah,”

It’s Not Fun status : END

Annyeong!!!

Kembali lagi dengan FF aneh thiller-ku setelah yang kemarin baru saya publish, From Me

Semoga kalian ngerti endingnya!! #wish

Apa ini udah gak ngegantung? semoga IYA!!

Aigoo– mianhae kalo judulnya gak sesuai ma FF-nya, abis aku bingung mau ngasih judul apa~ #bow

JANGAN LUPA SARAN!!

Hehe,

Semoga kalian suka!!

Be a Good Readers Please !!

Please Leave a Comment!!

Buka = Baca = Pahami = Hayati => HARUS KOMEN!!

See You on Next Fanfiction!!

Advertisements

3 comments on “It’s Not Fun

  1. wah..bgus eon 🙂
    fanfic nya ‘kerasa’ bnget #ap dah#

    hehe…
    boleh minta mampir ke blog ku gk? huhu…
    habis sepi kayak kuburan itu blog
    #yaiyalah,buat nya aj bru kmaren ==”#
    Gomawo klo mo mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s